Riefismi's Blog
Just another WordPress.com weblog

“Sumpah demi Pemilik Ka’bah, Sungguh Aku telah Beruntung”


“Mama, kenapa besok kita harus mengenakan busana warna hitam? Emangnya ada peristiwa sedih apa?”, tanya putri kecilku dengan penuh rasa penasaran. “Sayang, besok (tanggal 19 Ramadhan) tepatnya pada waktu subuh merupakan hari dimana orang nakal yang bernama Abdurahman bin Muljam menancapkan pedang beracunnya di kepala pemimpin para manusia baik. Orang yang dekat sama anak-anak seperti kamu, penyayang anak-anak yatim, temanmu. Orang yang selalu memberi salam kepada anak-anak kecil dan sahabat orang fakir miskin.

Orang yang sangat baik, beliau adalah Imam Ali AS. Biasanya anak-anak yatim di kota Kufah, setiap malam sudah menungggu susu dan buah kurma yang akan dibagi-bagikan Imam Ali AS kepada mereka. Lalu Imam meletakkan susu dan kurma tersebut di depan pintu rumah anak-anak yatim tanpa ada yang mengetahuinya. Namun setelah peristiwa menyedihkan terjadi, tiada lagi orang yang meletakkan susu dan kurma di hadapan rumah mereka. Padahal anak-anak yatim sudah menunggunya, tapi orang baik yang tak mau dikenal itu tak kunjung datang.

Dengan terjadinya peristiwa menyedihkan itu, akhirnya mereka mengetahui bahwa orang yang selama ini selalu mengirim susu dan kurma kepada mereka adalah Imam Ali AS. Semenjak anak-anak yatim itu mengetahui bahwa Imam Ali AS mengalami luka parah terkena tusukan pedang beracun, akhirnya giliran mereka yang membawa susu untuk Imam Ali AS, dengan harapan agar sakitnya segera pulih. Imam Ali AS adalah orang yang sangat pengasih dan penyayang terhadap anak-anak seperti kamu, dan anak-anak yatim temanmu”, jawabku panjang lebar menjelaskan.

“Putriku sayang, orang-orang yang sayang sama Imam Ali AS dari besok (tanggal 19 Ramadhan) sampai tanggal 21 Ramadhan -yang merupakan hari kesyahidan Imam Ali AS yang pergi menemui Tuhan- akan bersedih dan berduka atas ketiadaan beliau”, jelasku. “Putriku sayang, kita bersedih karena orang baik dan orang yang selalu mengajak kita kepada kebaikan telah meninggalkan kita. Orang yang bagaikan cahaya keberadaannya untuk kehidupan kita dan dunia ini telah pergi meninggalkan kita, dibunuh orang jahat. Kita semua sedih khan? Dan kesedihan itulah yang akhirnya kita disuruh (baca: dianjurkan) pakai baju warna hitam”, tambahku melanjutkan.

Andaikan kita menengok kembali kehidupan Imam Ali AS yang dipenuhi dengan berbagai keutamaan. Betapa hebat jika kita bayangkan bagaimana Imam Ali AS datang ke dunia dan pergi dari dunia ini di tempat yang sangat suci yaitu di rumah Tuhan. Beliau lahir di dalam Ka’bah dan syahid di mihrab masjid Kufah. Berdasarkan kesepakatan para ahli sejarah, Imam Ali AS lahir di rumah Allah SWT (Ka’bah). Sewaktu ibu beliau Fathimah binti Asad melaksanakan tawaf dan berdoa di sisi Ka’bah, dan sewaktu beliau merasakan rasa sakit sebagai tanda waktu melahirkan hampir dekat, beliau langsung bersandar di dinding Baitullah-Ka’bah.

Ketika itu, tiba-tiba tembok Ka’bah retak dengan sendirinya seakan mempersilahkan beliau masuk ke dalamnya, dan beliau pun akhirnya masuk ke dalam Ka’bah lewat belahan tembok tersebut. Sampai sekarang bekas retak tersebut masih tampak. Bagi orang yang pernah pergi haji pasti dapat melihat bekas retak tersebut. Apakah ini bukan sebuah mukjizat?

Kita mengetahui ka’bah merupakan tempat suci, orang yang dalam keadaan tidah suci seperti dalam keadaan haid dan nifas tidak dapat masuk ke dalamnya, tapi kenapa Allah SWT memberikan izin kepada Fathimah binti Asad dapat memasuki tempat tersebut? Apakah beliaupun seperti Sayidah Maryam AS dan Sayidah Zahra AS yang ketika melahirkan tidak mengeluarkan darah nifas, hal ini dikarenakan kesempurnaan dan kedudukan mulia yang mereka miliki di sisi Allah SWT? Fathimah binti Asad tinggal di dalam Ka’bah selama tiga hari. Siapakah yang memberikan hidangan kepada Fathimah binti Asad sehingga dapat memulihkan kembali rasa letih yang dirasakan pasca melahirkan? Apakah beliau selama tiga hari tidak memakan apa-apa? Tidak seorang pun mengetahui apa yang terjadi di dalam Ka’bah sewaktu Fathimah binti Asad tinggal di dalam Ka’bah. Apakah ini bukan mukjizat yang tidak mungkin dimiliki oleh manusia biasa?

Ketika ayah Imam Ali as (Abu Thalib) mengalami kesulitan ekonomi maka beliau mengharap sebagian anggota keluarganya -yaitu Abbas (saudara Abu Thalib) dan Nabi Muhamad SAWW- untuk turut meringankan beban Abu Thalib. Mereka memutuskan untuk mengasuh dua anak Abu Thalib. Nabi Muhamad SAWW mengambil Ali as yang masih kecil untuk diasuhnya. Mungkin merupakan sebuah hikmah Illahi Rasulullah SAWW membesarkan Imam Ali AS di rumahnya yang merupakan tempat lalu lalang para malaikat, sehingga pribadi yang akan menjadi pengganti setelahnya itu tidak tumbuh dan berkembang disembarang rumah, akan tetapi dibesarkan dan dididik di rumah utusan Allah SWT dan tempat turunnya wahyu. Sehingga kepribadian dan kehidupan Nabi Muhamad SAWW berpengaruh dalam membentuk kepribadian dan dalam kehidupannya.

Dalam menggambarkan kondisi dirinya ketika bersama Rasulullah Imam Ali AS berkata: “…Kalian semua mengetahui kedudukan diriku di sisi Rasulullah, ….beliau menempatkanku di tempat tidurnya. Sewaktu aku masih kecil beliau menggendongku, serta menidurkan diriku di tempat tidur khususnya. Beliau menempelkan badannya di badanku dan aku mencium bau suci beliau. Kadang beliau meletakan makanan sesuap demi sesuap di mulutku. Beliau tidak pernah mendapatkan aku berbohong dalam ucapanku dan bersalah dalam prilakuku. Sejak Rasulullah menyelesaikan masa menyusu, Allah SWT mengutus Malaikat teragung (Jibril AS) untuk mendidiknya, siang malam beliau mengajarkan kepadanya jalan yang mulia, kejujuran dan akhlak yang terpuji. Aku selalu bersama Rasulullah SAWW seperti anak dengan ibunya. Setiap hari Rasulullah SAWW menunjukkan kepadaku akhlak-akhlak yang terpuji dan beliau memerintahkan kepadaku untuk mengikutinya. Pada setiap tahun Rasulullah untuk beberapa waktu beliau tinggal berkhalwat (mengasingkan diri) di gua Hira, hanya diriku yang menyaksikan beliau dan tidak ada seorang pun yang melihatnya selainku. Pada masa itu, tidak ada satu rumahpun yang agama Islam masuk ke dalamnya kecuali rumah Rasulullah, yang Khadijah AS termasuk di dalamnya dan aku pun sebagai orang ketiga di rumah tersebut yang memeluk agama Islam. Aku menyaksikan cahaya wahyu dan risalah beliau, aku mencium bau kenabian.

Ketika wahyu diturunkan kepada Rasulullah SAWW aku mendengar suara jeritan Setan. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, jeritan siapakah ini? Beliau menjawab: “Setan, yang telah putus asa dengan penyembahan dirinya”. Lantas beliau melanjutkan: “Wahai Ali, sesungguhnya engkau mendengar semua yang aku dengar, dan melihat semua yang aku lihat, hanya saja engkau bukan seorang nabi melainkan engkau sebagai pengganti (wazir) dan engkau berada pada kebaikan”. [kitab Nahjul-Balaghah, Khutbah ke-192]

Ali bin Abi Thalib AS adalah pribadi mulia yang terlahir di rumah Tuhan (Ka’bah), dibesarkan di rumah Utusan Tuhan (Rasulullah SAWW) dan pergi dari alam dunia yang fana’ inipun dari rumah Tuhan, tempat bersujudnya para manusia beriman (masjid). Beberapa hari menjelang kesyahidannya Imam Ali AS melaksanakan buka puasa di rumah para putra dan putrinya secara bergiliran. Tepatnya pada malam tanggal 19 Ramadhan tahun 40 HQ beliau berbuka puasa di rumah putri tercintanya Sayidah Zainab AS. Pada buka puasa tersebut beliau hanya mencukupkan dirinya dengan menyantap roti kering dan garam. Padahal pada saat itu beliau merupakan seorang khalifah muslimin. Malam tersebut Imam Ali AS menghabiskan waktu malamnya dengan ibadah dan penghambaan diri ke hadirat Ilahi dan senantiasa dalan keadaan munajat dan merintih. Beliau telah mengetahui dan mencium ajal dan kesyahidan yang akan menjemputnya.

Sayidah Zainab AS mengatakan bahwasanya Imam Ali AS telah mengumpulkan anaknya pada malam itu seraya berkata kepada mereka: “Sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah pada mimipiku saat ini, beliau berkata kepadaku: “Wahai Abu Hasan, dalam waktu dekat engkau akan menyusul kami, akan datang kepadamu orang yang paling celaka dimana ia akan mewarnai parasmu dengan darah yang keluar dari kepalamu. Sumpah demi Tuhan, aku sangat rindu untuk bertemu denganmu, dan engkau akan berada di samping kami pada waktu sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Maka cepatlah engkau bergabung dengan kami, karena perkara yang telah disediakan oleh Allah SWT untukmu ialah lebih baik bagimu dan akan kekal”. [kitab Biharul-Anwar, jilid 42 Bab 277 dinukil dari buku Zainab Kubro az Wiladah ta Syahadah halaman 49]

Pada malam itu Imam Ali AS senantiasa dalam keadaan munajat dan shalat. Ketika waktu mendekati subuh, beliau keluar dari kamar dan menatap bintang-bintang di langit, setelah itu ketika beliau memasuki kamar dan kembali ke tempat ibadah, beliau berulang-ulang mengucapkan: “Ya Allah, berkahilah kematianku”, dan mengucapkan zikir ‘innalillahi wa inna ilaihi raji’uun’ dan ‘la haula wala quwata illa billah ‘aliyuladzim’, banyak mengucapkan shalawat kepada Rasulullah dan beristighfar. Menyaksikan keadaan ayahnya yang berulang-ulang menyebutkan tentang kematian, Sayidah Zainab AS bertanya: “Wahai ayahku, kenapa malam ini engkau menyampaikan kabar kematianmu? Imam Ali AS menjawab: “Wahai putriku, ajal telah mendekatiku dan terputuslah harapan”. Sayidah Zainab AS menangis setelah mendengar ucapan beliau, lalu Imam Ali AS melanjutkan ucapannya: “Janganlah menangis wahai putriku, ketahuilah aku tidak menyampaikan berita ini melainkan Rasulullah telah menyampaikan kepadaku”.

Setelah itu, untuk sesaat Imam Ali AS beristirahat dan lalu menyibukkan kembali dirinya dengan doa, shalat dan membaca zikir. Bahkan beliau pun memohon kepada putrinya untuk mengingatkannya ketika waktu azan subuh telah tiba. Di saat waktu azan subuh telah tiba, kemudian Sayidah Zainab AS memberitahukan ayahnya, sehingga beliau bersiap-siap untuk berangkat ke Masjid Kufah untuk memimpin shalat berjamaah subuh. Sesampainya di masjid, lantas beliau mengumandangkan azan subuh dan seperti biasanya setelah azan beliau membangunkan orang-orang yang tidur di masjid untuk melaksanakan shalat seraya berkata: “Shalat, Allah akan merahmati kalian, bangunlah untuk melaksanakan shalat wajib”. Kemudian beliau membacakan ayat 45 dari surah al-Ankanbut: “Sesungguhnya shalat akan mencegah kalian dari perbuatan keji dan mungkar”. Imam Ali As pun pada saat itu telah membangunkan orang yang akan membunuhnya, yaitu Abdurrahman bin Muljam yang tidur di masjid dan telah merencanakan pembunuhan terhadap beliau.

Setelah membangunkan orang-orang yang tidur di masjid lantas beliau pergi ke mihrab untuk melaksanakan shalat sunah. Si pembunuh, Abdurrahman bin Muljam dengan cepat telah mengambil shaf paling depan dalam barisan shalat berjamaah yang akan diimami oleh Imam Ali AS. Ia mengambil posisi tepat di depannya Imam Ali AS berdiri. Shalat berjamaah subuh pun telah dimulai, Abdurrahman bin Muljam sewaktu pelaksanaan shalat telah memasuki raka’at kedua dan Imam Ali telah mengangkat kepala beliau dari sujud pertama, lalu ia menghujamkan pedang beracunnya tepat mengenai kepala suci Imam Ali AS. Sewaktu pedang beracun mengenai kepala suci Imam Ali AS, Imam Ali AS mengucapkan: “Dengan nama Allah, dan demi Allah, dan atas jalan Rasulullah, sumpah demi Tuhan Ka’bah aku telah beruntung (fuztu wa rabb al-ka’bah), ini adalah perkara yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya telah berkata benar”. [Zainab Kubro az Wiladah ta Syahadah halaman 49-55]

Sungguh sangat beruntung engkau wahai pemimpin orang-orang yang bertakwa, engkau terlahir di rumah Tuhan (Ka’bah), engkau dibesarkan di rumah utusan Tuhan, engkau syahid di rumah Tuhan (masjid) dan engkau syahid dengan bersumpah pada pemiliki Ka’bah: “Fuztu wa Rabb al-Ka’bah”, “Sumpah demi pemilik Ka’bah sesungguhnya aku telah beruntung”. Beginilah akhir kehidupan pemimpin para kaum mukmin dan ahli takwa ini. Ali bin Abi Thalib AS yang selama ini selalu dipropagandakan oleh Muawiyah bin Abi Shofyan di wilayah Syam sebagai manusia keji dan pelaku dosa, dengan cara meninggal yang indah (yaitu dalam keadaan sujud di hadapan kekasih sejatinya) dan di tempat yang indah (yaitu masjid tempat mengungkapkan kecintaan hamba kepada kekasih sejatinya, Allah) menyebabkan keheranan banyak penduduk Syam dan tersingkapnya kebohongan berita-berita buruk yang selama ini dibikin oleh Muawiyah bin Abi Sofyan terhadap pribadi suci Ali bin Abi Thalib AS. [ED / Islamfeminis]

About these ads

No Responses to ““Sumpah demi Pemilik Ka’bah, Sungguh Aku telah Beruntung””

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: