Riefismi's Blog
Just another WordPress.com weblog

“CIUMAN SANG IBU”



Sebuah catatan dalam menyambut Hari Ibu…

BERNIE Siegel, baru-baru ini melakukan penelitian tentang ‘khasiat’ ciuman seorang istri bagi suaminya maupun seorang ibu bagi anak-anaknya. Sampel diambil dari kalangan peserta (suami) yang naik mobil pribadi untuk ke kantor dan dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah para suami yang berangkat ke kantor dengan terlebih dahulu dicium oleh sang istri, dan kelompok kedua adalah mereka yang pergi ke kantor tanpa dicium oleh sang istri. Setelah beberapa waktu, ditemukan bukti yang menakjubkan. Suami yang pergi ke kantor dengan ciuman sang istri lebih memiliki kemungkinan kecil untuk mengalami kecelakaan di perjalanan daripada mereka yang berangkat kerja tanpa merasakan kecupan mesra sang istri. Ternyata kualitas dan antusias bekerja pun mengalami perbedaan yang cukup signifikan.

Kecupan tulus sang istri ketika memberangkatkan suami bekerja ternyata telah meminimalkan kemungkinan hadirnya WIL (wanita idaman lain). Di pihak lain, seorang anak yang diberangkatkan sekolah oleh sang Ibu dengan kecupan sayang ternyata memberi dampak yang luar biasa dalam prestasi sekolahnya, bahkan kecupan tersebut mampu meredam kemarahan untuk tidak berkelahi di sekolah daripada mereka yang diberangkatkan oleh baby sitter (pembantu). Percaya atau tidak, hal ini merupakan hasil suatu penelitian yang spektakuler mengenai ciuman seorang ibu.

Ciuman atau kecupan sayang seorang ibu yang tulus merupakan bukti cinta dan keindahan yang mendalam dan kesetiaan yang teguh tanpa harus terurai dalam kata-kata. Gde Prama bahkan melukiskan wanita memejamkan mata ketika berciuman, karena sadar sedalam-dalamnya kalau keindahan di dalam sini jauh lebih meneduhkan dibandingkan keindahan luar. Dalam salah satu jurnal Psychology of Woman, disebutkan wanita memiliki kemampuan mempertahankan cinta yang luar biasa dibandingkan pria, wanita juga lebih tahan terhadap stres dibandingkan pria.

*********************

SURGA berada di telapak kaki ibu, merupakan ungkapan yang sangat indah untuk menggambarkan eksistensi seorang wanita yang telah berperan ganda dalam kehidupannya; sebagai ibu dan istri, bahkan karyawan atau pemimpin dalam pekerjaannya. Agak sulit ditemukan suatu tulisan yang menggambarkan wanita adalah kepala dalam rumah tangganya atau yang mengepalai rumah tangganya. Namun, sekalipun bukan kepala, ada status yang boleh dibanggakan dari seorang ibu, yakni penolong (helper), mereka setara dengan pria yang salah satu komponennya berasal dari tulang rusuk pria.

Demikian agungnya sebutan yang diberikan kepada seorang ibu, hingga kita sering lupa bahwa sekalipun surga berada di telapak kaki ibu, namun kerapkali neraka yang justru berada di mulut dan ucapan seorang ibu. Kekuatan seorang ibu bukan berada dalam kuasa mulutnya, melainkan dalam tangannya yang dingin dan hati yang tulus serta pikiran yang optimis untuk membangun bahtera yang telah dirintis bersama sang suami. Keteladanan sang ibu tampak dari untaian indah do’a-do’a yang mengalir disertai air mata untuk memanjatkan syukur dan permohonan kepada Sang Pencipta. Monumen keindahan kasih ibu dibangun di atas kecupan sayang, dekapan hangat dan cerita-cerita indah yang mengalir sejuk membentuk atmosfer kehangatan kasih di rumah maupun di kantor.

Ibu yang bijaksana akan terus mendorong karier sang suami melalui kekuatan kasih yang diberikan di rumah. Untaian doa yang dipanjatkan kepada Sang Pencipta akan jauh lebih banyak dibandingkan sekadar kasak-kusuk ke sana ke mari untuk mengatrol kedudukan sang suami.

Sementara itu, agak janggal rasanya ketika ada seorang ibu yang sibuk mengurusi orang lain daripada dirinya sendiri maupun keluarganya. Kurang tepat porsinya, ketika di tengah-tengah upaya meningkatkan harkat seorang ibu, masih sering terjadi ibu yang suka menyebarkan gosip ke sana ke mari, yang justru secara tidak langsung akan mengurangi rekening bank harga dirinya sebagai seorang ibu.

Seorang sahabat sewaktu mahasiswa dulu pernah menasihati, “Jika ingin tahu bagaimana karakter calon istrimu, lihat dan pelajarilah tingkah laku dan karakter ibunya”.

Ibu (dan ayah) merupakan model yang tidak akan terlepas dari perkembangan seorang anak. Model pertama bahkan paling utama dalam proses identifikasi seorang anak terlihat dari tingkah laku orangtuanya sehari-hari.

Madam Theresa pernah bertutur, “Tebarkanlah cintamu di mana-mana!” Ciuman, sekalipun tanpa biaya, namun menjadi kekuatan yang luar biasa sebagai lambang cinta yang tulus. Siapa tahu, dengan ciuman sayang sang istri untuk sang suami sebelum berangkat ke tempat kerja akan mampu mengangkat motivasi dan kompetensi sang suami serta membangun kebersamaan dan sense of belonging terhadap tempat kerja yang tinggi.

Kasih ibu kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi
tak harap kembali
bagai sang surya
menyinari dunia

No Responses to ““CIUMAN SANG IBU””

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: