Riefismi's Blog
Just another WordPress.com weblog

~~~Wanita~~~


Hawa adalah wanita pertama yang Allah SWT hadirkan ke muka bumi, Alloh menyebutnya di dalam al-Qur’an dengan lafal “zauj“ (زوج ) yang termaktub dalam 5 ayat pada 5 surat yang berlainan (lihat: QS. 2:35, 4:1, 7:19, 20:117, 39:6).


Pada 3 surat ( QS. 2:35, 7:19, 20:117 ) disebutkan bahwa Hawa ada diantara kisah suaminy…a Adam a.s, sedangkan 2 surat lainnya dinyatakan Hawa dalam konteks yang berbeda.


Menilik Hawa yang tercantum dalam surat 2:35, di dalamnya terkandung suatu makna betapa besarnya keberadaan seorang wanita di hadapan seorang pria, karena Sunnatulloh pria cenderung kepada wanita yang satu sama lainnya mempunyai ketergantungan, yang dengannya dapat memunculkan sakinah (ketenangan) lahir-bathin dalam mengarungi bahtera kehidupan, manakala keduanya mampu melaksanakan tugas sebagai suami istri yang shalih dan shalihat.


Hal ini tersirat dalam al-Qur’an dengan kalimat ( اسكن أنت وزوجك الجنة ) artinya: Tinggallah kamu dan istrimua di dalam Surga; kata ( اسكن ) ditujukan kepada Adam dan Hawa dan tidak mengulang kata ( اسكن ) dalam bentuk perintah kepada Hawa seperti misalnya ( اسكن أنت ولتسكن زوجك ) tetapi hanya menyebutkan kata kerja perintah satu kali ( اسكن أنت وزوجك ). Maka kata (اسكن) memiliki konotasi sebuah mahligai rumah tangga yang mampu menebarkan ketenangan dan kebahagiaan hidup seorang pria, karena disampingnya wanita setia menyertainya sebagai istri.


Dengan kata lain seorang istri akan menikmati ketenangan dan kebahagiaan hidup ketika berhasil memerankan tugas sebagai istri bagi suaminya [11] . Dari kata sambung “waw” mengisyaratkan adanya jalinan yang harmonis antara pria dan wanita dalam sebuah ikatan perkawinan yang sah.


Demikian rahasia al-Qur’an tidak menyebutkan nama Adam atau Hawa, tetapi cukup dengan menyebutkan status Hawa sebagai istri Adam a.s, sebagai pertanda keharmonisan dan ketenangan hidup berumah tangga. Pada ayat tersebut berlaku untuk seluruh manusia yang ingin menjalankan roda kehidupan di dunia dengan menata kehidupan rumah tangga di bawah rengkuhan ridho Allah Swt.


Maka untuk membangun rumah tangga yang harmonis tak luput dari unsur ta’awun (saling membantu ), agar dapat melaksanakan tugas dan perannya, baik yang bersifat moral maupun material, dijelaskan oleh Allah SWT ketika Adam dan Hawa menghadapi godaan dan rayuan Iblis -la’natulloh ‘alihi-, satu sama lain memperkokoh untuk mampu menghadapi dan melawan tipu daya serta bisikan Iblis menghancurkan keutuhan mereka, karena pada hakekatnya Iblis tidak hanya menggoda Adam, tetapi Hawa tak luput dari sasarannya (عدو لك ولزوجك: Musuh bagimu dan bagi istrimu), sebagaimana tercantum dalam QS. 20:117.


Pun diperjelas dengan kata-kata selanjutnya dalam ayat itu ( فلايخرجنكما من الجنة : Maka ia tidak mengeluarkan kalian berdua dari Surga, dengan kata ganti ( كما ) yang berlaku untuk berdua (Adam dan Hawa). Namun kata-kata berikutnya (فتشقى), menggunakan kata ganti yang berlaku untuk seorang, Allah tidak mengatakan ( فتشقيان ) misalnya, yang artinya: maka kalian berdua akan sengsara. Tetapi hanya berkata ( فتشـقى ) yang artinya maka akan sengsara (Engkau hai Adam). Melihat realita yang ada, sesungguhnya dalam membangun mahligai rumah tangga keduanya memiliki tugas yang diemban masing-masing, bagi seorang suami sebagai Qowwam (pemimpin) berperan pencari nafkah, seorang pemimpin yang memiliki wibawa di mata istri dan putra-putrinya, sedangkan Istri dengan belaian lembut dan sentuhan kasih sayang mampu menjadikan rumah tangga sebagai madrasah buat putra-putrinya, sebagai proses kaderisasi untuk memunculkan generasi tangguh dan berkualitas.


Demikian mulia dan tingginya nilai dan tugas yang diamanatkan kepada wanita sebagai istri dan seorang ibunda di dalam memfungsikan misi dan perannya bersama sang suami dan ayahanda, merupakan proyek besar bagi terwujudnya generasi yang mampu tampil dengan gelar khalifah di muka bumi .Selanjutnya termaktub di dalam surat An-Nisa ayat 1, bahwa kata “zauj “ yang dimaksud adalah Hawa [12] .Nilai mulia wanita juga dapat dilihat dari perannya sebagai pendamping pria, pertanda kebesaran Allah SWT menjadikan manusia dari satu asal (Adam a.s) yang kemudian melengkapi pasangan untuknya seorang istri (Hawa). Dari sana berawal proses penciptaan lahirnya anak manusia sebagai asal muasal kejadian manusia yang kemudian menjadi titik tolak berlakunya hukum sosial dalam Islam.


Perhatian al-Qur’an terhadap wanita dan permasalahannya sangat nampak pada pengangkatan kewanitaan, baik pada aspek figur dan kriterianya maupun aspek masalah-masalah yang dibahas; demikian banyak al-Qur’an menyebut kisah-kisah wanita yang berperan sebagai figure keteladanan seperti Asiah istri Fir’aun, Zainab binti Jahsyin istri Rasulullah saw, kisah ketegaran istri Nabi Ibrahim as, kisah fitnah terhadap Ummul Mu’minin Aisyah.


Sebaliknya wanita-wanita berdosa yang tidak bertanggung jawab terhadap kelestarian dan kesejahteraan hidup, seperti istri Nabi Nuh dan Nabi Luth, istri Abu Lahab. Bahkan al-Qur’an memberikan penamaan khusus kepada nama sebuah surat al-Qur’an dengan sebutan an-Nisa’ (para wanita); di dalamnya dijelaskan tentang wanita yang memerankan penebar kebajikan bagi kehidupan dan hokum-hukum yang terkait dengan kewanitaan. Wanita Dalam Hadits Nabi saw.


Sebagaimana dalam al-Qur’an, hadits nabi saw sesuai fungsinya sebagai penafsir dan pemberi penjelasan al-Qur’an, mengangkat wanita sebagai makhluk Allah yang menempati posisi yang tinggi. Antara lain dapat dicermati dengan seksama hadits Nabi saw tentang asal muasal penciptaan wanita, bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk kiri Adam a.s dalam sabda Rasulullah saw : ( … فإنهن خلقن من ضلع أعوج … ) artinya: “(karena) mereka (kaum wanita) diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok” . Hadits ini adalah hadits shahih karena diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim [13], penciptaan semacam ini merupakan tanda kekuasaan Allah SWT yang mengatur sesuatu menurut kehendak-Nya, seperti halnya proses penciptaan Adam a.s tanpa ayah dan ibu, juga penciptaan Isa a.s tanpa ayah.


Maka dapat dipahami, bahwa penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam bukan bermaksud merendahkan kedudukan kaum wanita dan tidak pula menyerahkan totalitas kekuasaan kepada pria atas wanita. Sebagai bukti hadits tsb diawali dengan suatu pesan Rasulullah saw kepada kaum pria sebagai suami atau seorang ayah: (استوصوا بالنساء خيرا): “ berlaku baiklah kepada wanita” [14] Selanjutnya esensi penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam as sebagai isyarat adanya nilai fitrah yang terkandung yaitu keterikatan dan kecenderungan antara pria dan wanita dan pertanda adanya rasa saling membutuhkan satu sama lainnya untuk saling melengkapi, karena keduanya berasal dari tubuh yang satu, seiring dengan ungkapan Allah SWT ( زوج ) yang berarti teman hidup [15] , karena keduanya lahir dari proses penciptaan-Nya. Keunikan ciptaan wanita seperti disebutkan dalam banyak hadits Nabi saw itu menempatkan wanita sebagai makhluk Allah yang mesti disikap dengan bijak dan sesuai fitrahnya dan asal kejadiannya; karenanya wanita di satu sisi disebut-sebut sebagai zinatul-hayah (perhiasan dunia),


sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw: الدنيا متاع وخير متاعها المرأة الصالحة” (رواه مسلم) “Dunia adalah perhiasan, sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah (HR Muslim). ألا أخبركم بخير ما يكنز المرء المرأة الصالحة إذا نظر إليها سرته وإذا غاب عنها حفظته، وإذا أمرها أطاعته” رواه ابن ماجه وأحمد والنسائي والحاكم Maukah kalian aku beritahu sebaik-baik harta simpanan seseorang? Yaitu wanita sholihah,jika ia memandangnya menyenangkannya, jika ia tidak berada di depannya ia peliharanya, jika ia memerintahkannya ia menataati” HR. Ibnu Majah, Imam Ahmad, an-Nasa’I dan al-Hakim. Tetapi di sisi lain wanita juga menjadi fitnah, sesuatu yang mendatangkan malapetaka dalam kehidupan bagi kaum pria, hal itu ditegaskan Nabi dalam haditsnya: ((ما تركتُ بعدي فتنةً أضرّ على أمّتي من النساء)) رواه البخاري ومسلم [16] “Tidak aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya atas umatku daripada wanita” (HR. Bukhari Muslim). )وعند مسلم في صحيحه: (فاتقوا الدنيا، واتّقوا النساء، فإنّ أوّل فتنةِ بني إسرائيل كانت في النساء)[17] Dalam riwayat Muslim: “takutlah terhadap dunia, dan terhadap wanita, karena fitnah pertama terhadap Bani Israil dahulu pada wanita”.


Dalam catatan sejarah dikenal peristiwa-peristiwa peperangan di jaman Jahiliyah yang terjadi disebabkan karena factor wanita seperti yang terjadi terhadap Kisra yang menginginkan seorang wanita namun ditolak oleh an-Nu’man[18], demikian peristiwa konflik dengan Yahudi dikarenakan gangguan terhadap wanita muslimah berjilbab yang terbuka sebagian auratnya di pasar Bani Qoinuqo’ di masa Nabi Muhammad saw [19] .


Wanita dalam Islam sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits Rasulullah saw adalah memiliki hak dan kewajiban sebagaimana kaum pria, sebagaimana Islam mengangkat prinsip persamaan antara lelaki dan perempuan, namun juga menyatakan realitas perbedaan baik fisik maupun emosi antara lelaki dan perempuan, karenanya persamaan dan kebebasan yang dimiliki kaum perempuan direalisasi secara proporsional sesuai batas-batas yang ditentukan syariat Islam[20]. Tidak seperti yang dituduhkan oleh kaum Liberal bahwa wanita memiliki kebebasan tanpa batas dan arahan kaum pria, mereka kadang-kadang menggunakan dalil-dalil untuk melegitimasi pandangannya seperti ‘hadits’ :)طاعةُ المرأة ندامة( ‘ hadits’ tersebut adalah hadits palsu, dikeluarkan oleh Ibnu Ady dalam kitab al-Kamil 3/262, 5/262 dari Aisyah r.a dari hadits Zaid bin Tsabit r.a, Ibnu al-Jauzi (2/272) dan Imam Syaukani (129) serta al-Albani dalam Silsilah Hadits Dho’if (435) dan yang lainnya.


Seperti hadits yang lain: ((خذوا نِصفَ دينِكم من هذه الحُميراء))Hadits tersebut juga palsu, seperti yang disebutkan dalam kitab Mirqotul Mafatih (10/565), bahwa al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Saya tidak mengenal sanadnya, juga periwayatannya dalam buku-buku hadits selain dalam kitab an-Nihayah Ibnu al-Atsir, tetapi beliau tidak menyebut siapa yang meriwayatkannya. Al-Hafizh Imaduddin ibnu Katsir, bahwa ia bertanya al-Mazzi dan adz-Dzahabi, keduanya berkata: tidak mengetahui (riwayat tersebut). As-Sakhowi berkata: disebutkan dalam al-Firdaus tanpa sanad dan tidak dengan lafazh ini, tetapi dengan lafazh ( خذوا ثلث دِينِكُم مِن بيتِ الحُميراء ) Penulis Musnad al-Firdaus mencantumkan riwayat ini namun tidak menyebutkan sanadnya. Imam as-Suyuthi mengatakan: “saya tidak menemukannya (riwayat tersebut) ”. kalaupun benar riwayat tersebut maksudnya adalah keunggulan yang dimiliki oleh Ummul Mukminin Aisyah r.a dalam hukum-hukum fiqh keluarga, bukan berarti tahrir al-mar’ah (liberalisasi kaum wanita).


Islam juga tidak memandang wanita wabagai makhluk yang serba kurang. Sebagaimana sebagian orang yang bersikap negative kepada wanita karena kekurangan yang diihat pada kaum wanita; sebahagian lagi menganggap wanita sebagi makhluk lemah dan serba kurang berdasarkan sebuah riwayat hadits : ( عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم: في أضحى أو فطر إلى المصلى (مصلى العيد) فمر على النساء، فقال: يا معشر النساء… ما رأيتُ ناقصات عقل ودين أذهب للب الرجل الحازم من إحداكن” أخرجه الشيخان. Maksud hadits ini adalah bahwa wanita ketakjuban Nabi pada fenomena kemampuan wanita dalam mengambil hati pria, padahal pada diri mereka- secara umum- ada kelemahan. “Naqishot ‘aql berarti kurang daya ingat dalam beberapa persoalan hidup, sedangkan naqshu din ialah tidak diperkenankannya wanita melakukan beberapa ritual ibadah lantaran adanya penghalang seperti haidh dan nifas [21].


Wallahu A’alam bish-showab. Wanita dan Kepemimpinan Pada dasarnya kepemimpinan secara umum diembankan kepada laki-laki, sebagaimana penegasan Allah SWT dalam surat an-Nisa’: 34)الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ (النساء:34 .Kaum lelaki adalah pelindung (pemimpin) bagi kaum wanaita karena karunia Allah kepada sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian lainnya (wanita), dan karena (kewajiban) menafkahi dari harta mereka; maka wanita-wanita shalihat adalah yang tunduk patuh, menjaga diri ketika (sang suami) tidak ada, karena Allah telah menjaga mereka… (QS. An-Nisa: 34). Kelebihan kaum lelaki atas kaum wanita juga dijelaskan Allah SWT dalam firmanNya ayat 228 surat al-Baqarah وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ “ … dan baginya (kaum wanita) memiliki hak sebagaimana ada kewajiban dengan cara yang makruf, dan bagi kaum lelaki derajat atas kaum wanita, dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”[22].


Namun demikian tidak ada satu teks agama yang melarang kepemimpinan kaum wanita atas kaum lelaki selain dalam hal al-walayah (kekuasaan) secara umum, seperti hadits riwayat al-Bukhari dari Abu Bakrah r.a [23], Rasulullah saw bersabda: )لن يفلح قوم ولَّوا أمرَهم امرأةً) ,وفي لفظ آخر (: ((ما أفلَح قومٌ ) “ Suatu kaum tidak beruntung jika mereka mengangkat wanita sebagai pemimpin”.Imam Ahmad dalam Musnadnya meriwayatkan dengan sanadnya yang shahih[24], bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: ( الآنَ هلكتِ الرجال إذا أطاعتِ النساء )“ Sekarang, binasalah kaum lelaki jika menaati kaum wanita” .


Maksud 2 riwayat hadits tersebut adalah perwalian atau kepemimpinan secara umum (imamah kubra) terhadap umat atau kedudukannya sebagai pemimpin daulah. Terkait dengan riwayat hadits pertama dapat disimpulkan pendapat para ulama Islam : a- Sebab periwayatannya adalah kabar tentang ketidakberuntungan orang-orang Persi, karena mereka memakai sistem kerajaan yang mengharuskan mengangkat putri pemimpinnya yang meninggal sebagai penggantinya, padahal selain putrinya masih banyak kaum pria yang lebih pantas menjadi pemimpin. b- Kalau ada ulama mengatakan yang menjadi pertimbangan adalah keumuman lafazh bukan kekhususan sebab, tetapi ada juga ulama yang berpendapat lain seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Umar yang menegaskan pentingnya perhatian kepada sebab turunnya ayat dan sebab periwayatan hadits agar tidak menjadi seperti kaum al-Haruriyah dan Khawarij yang cenderung tekstualis ekstrim. c- Jika hadits ini dipahami dengan keumuman lafazh saja maka bisa saja dikatakan bertentangan dengan ayat yang mengkisahkan ratu Bilqis yang adil dan cerdas. d- Para ulama sepakat bahwa wanita dilarang memegang al-walayah al-kubra atau al-imamah al-uzhma, yang dalam hadits ditunjukkan dengan kata ”wallau amrohum”.


Namun ada juga ulama yang mengqiyaskan (menganalogi) imamah kubra dengan kepala negara. Singkatnya mereka berbeda pendapat dalam penetapan wanita sebagai kepada negara atau kepada daerah. Hal ini terbuka untuk medan ijtihad. e- Pembicaraan wanita menjadi menteri atau tugas-tugas lain di luar pembicaraan khilafiyah ulama diatas. Umar bin Khthab pernah mengangkat Syifa binti Abdullah al-’Adawiyah menjadi Kepala Bidang Urusan Pasar. f- Kedudukan seperti Indira Ghandi, Margaret Tatcher atau Golda Meir di Israel tidak dapat dikatakan penguasa kaum secara umum, sebab mereka hanya pimpinan dari partai dan kelompoknya (dalam perspektif demokrasi modern), karena masih banyak yang dapat menentang dirinya sebagai pemimpin[25] . by: usman..

No Responses to “~~~Wanita~~~”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: