Riefismi's Blog
Just another WordPress.com weblog

May
16

Konon dikisahkan bahwa pada zaman Rosululloh ada seorang pemuda yang bernama Alqomah. Dia seorang pemuda yang giat beribadah, rajin sholat, banyak puasa dan suka bershodaqoh. Suatu ketika dia sakit keras, maka istrinya mengirim utusan kepada Rosululloh untuk memberitahukan kepada beliau akan keadaan Alqomah. Maka Rosululloh pun mengutus Ammar bin Yasir, Shuhaib ar Rumi dan Bilal bin Robah untuk melihat keadaannnya. Beliau bersabda : “Pergilah ke rumah Alqomah dan talqinlah untuk mengucapkan La Ilaha Illalloh.” Akhirnya mereka berangkat kerumahnya, ternyata saat iu Alqomah sudah dalam keadaan naza’, maka segeralah mereka mentalqinnya, namun ternyata lisan Alqomah tidak bisa mengucapkan La ilaha illalloh.

Langsung saja mereka laporkan kejadian ini pada Rosululloh.

* Maka Rosululloh pun bertanya : Apakah dia masih mempunyai kedua orang tua ?

Ada yang menjawab : Ada wahai Rosululloh, dia masih mempunyai seorang ibu yang sudah sangat tua renta.”

* Maka Rosululloh mengirim utusan untuk menemuinya, dan beliau berkata kepada utusan tersebut : Katakan kepada ibunya Alqomah : “Jika dia masih mampu untuk berjalan menemui Rosululloh maka datanglah, namun kalau tidak, maka biarlah Rosululloh yang datang menemuimu.”

Tatkala utusan itu telah sampai pada ibunya Alqomah dan pesan beliau itu disampaikan, maka dia berkata : Sayalah yang lebih berhak untuk mendatangi Rosululloh.”

Maka dia pun memakai tongkat dan berjalan mendatangi Rosululloh.

Sesampainya di rumah Rosululloh, dia mengucapkan salam dan Rosululloh pun menjawab salamnya.

* Lalu Rosululloh bersabda kepadanya : “Wahai ibu Alqomah, jawablah pertanyaanku dengan jujur, sebab jika engkau berbohong maka akan datang wahyu dari Alloh yang akan memberitahukan kepadaku, bagaimana sebenarnya keadaan putramu Alqomah ?

Sang ibu menjawab : Wahai Rosululloh, dia rajin mengerjakan sholat, banyak puasa dan senang bershodaqoh.”

* Lalu Rosululloh bertanya lagi : Lalu apa perasaanmu padanya ?

Dia menjawab : Saya marah kepadanya Wahai Rosululloh.”

* Rosululloh bertanya lagi : Kenapa ?.”

Dia menjawab : Wahai Rosululloh, dia lebih mengutamakan istrinya dibandingkan saya dan dia pun durhaka kepadaku.”

* Maka Rosululloh bersabda : Sesungguhnya kemarahan sang ibu telah menghalangi lisan Alqomah sehingga tidak bisa mengucapkan syahadat.”

* Kemudian beliau bersabda : Wahai Bilal , pergilah dan kumpulkan kayu bakar yang banyak.”

Si ibu berkata : Wahai Rosululloh, apa yang akan engkau perbuat ?.”

* Beliau menjawab : Saya akan membakarnya dihadapanmu .”

dia menjawab : Wahai Rosululloh , saya tidak tahan kalau engkau membakar anakku dihadapanku.”

* Maka Rosululloh menjawab : Wahai Ibu Alqomah, sesungguhnya adzab Alloh lebih pedih dan lebih langgeng, kalau engkau kepingin agar Alloh mengampuninya, maka relakanlah anakmu Alqomah, demi dzat yang jiwaku berada di Tangan Nya, sholat, puasa dan shodaqohnya tidak akan memberinya manfaat sedikitpun selagi engkau masih marah kepadanya,”

Maka dia berkata ; Wahai Rosululloh, Alloh sebagai saksi, juga para malaikat dan semua kaum muslimin yang hadir saat ini bahwa saya telah ridlo pada anakku Alqomah”.

* Rosululloh pun berkata kepada Bilal : Wahai Bilal, pergilah kepadanya dan lihatlah apakah Alqomah sudah bisa mengucapkan syahadat ataukah belum, barangkali ibu Alqomah mengucapkan sesuatu yang bukan berasal dari dalam hatinya, barangkali dia hanya malu kepadaku.”

Maka, Bilal pun berangkat, ternyata dia mendengar Alqomah dari dalam rumah mengucapkan : La Ilaha Illalloh.” Maka Bilal pun masuk dan berkata : Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kemarahan ibu Alqomah telah menghalangi lisannya sehingga tidak bisa mengucapkan syahadat, dan ridlonya telah menjadikanya mampu mengucapkan syahadat.”

Kemudian, Alqomah pun meninggal dunia saat itu juga.

* Maka, Rosululloh melihatnya dan memerintahkan untuk dimandikan lalu dikafani kemudian beliau mensholatinya dan menguburkannya,

* Lalu, didekat kuburan itu beliau bersabda : Wahai sekalian kaum muhajirin dan anshor, barang siapa yang melebihkan istrinya daripada ibunya, dia akan mendapatkan laknat dari Alloh, para malaikat dan sekalian manusia. Alloh tidak akan menerima amalannya sedikitpun kecuali kalau dia mau bertaubat dan berbuat baik pada ibunya serta meminta ridlonya, karena ridlo Alloh tergantung pada ridlonya dan kemarahan Alloh tergantung pada kemarahannya.”
=================

Pembaca mulia, mungkin banyak di antara pembaca yang pernah atau sering mendengar kisah di atas. Namun, tidakkah pembaca tahu bahwa kisah di atas SANGAT-SANGAT LEMAH?

Darimana sisi kelemahannya?

May
13

Musibah, Antara Pahala dan Dosa

Segala puji bagi Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Salawat dan salam semoga tercurah kepada teladan kaum beriman Muhammad bin Abdullah, dan juga para pengikutnya yang setia kepada ajaran-ajarannya di saat suka maupun duka. Amma ba’du.

Sesungguhnya musibah dan bencana merupakan bagian dari takdir Allah Yang Maha Bijaksana. Allah ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (QS. at-Taghabun: 11)

Ibnu Katsir rahimahullah menukil keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma bahwa yang dimaksud dengan izin Allah di sini adalah perintah-Nya yaitu ketetapan takdir dan kehendak-Nya. Beliau juga menjelaskan bahwa barang siapa yang tertimpa musibah lalu menyadari bahwa hal itu terjadi dengan takdir dari Allah kemudian dia pun bersabar, mengharapkan pahala, dan pasrah kepada takdir yang ditetapkan Allah niscaya Allah akan menunjuki hatinya. Allah akan gantikan kesenangan dunia yang luput darinya -dengan sesuatu yang lebih baik, pent- yaitu berupa hidayah di dalam hatinya dan keyakinan yang benar. Allah berikan ganti atas apa yang Allah ambil darinya, bahkan terkadang penggantinya itu lebih baik daripada yang diambil. Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma ketika menafsirkan firman Allah (yang artinya), “Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya.” Maksudnya adalah Allah akan tunjuki hatinya untuk merasa yakin sehingga dia menyadari bahwa apa yang -ditakdirkan- menimpanya pasti tidak akan meleset darinya. Begitu pula segala yang ditakdirkan tidak menimpanya juga tidak akan pernah menimpa dirinya (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [4/391] cet. Dar al-Fikr)

Beliau -Ibnu Katsir- juga menukil keterangan al-A’masy yang meriwayatkan dari Abu Dhabyan, dia berkata, “Dahulu kami duduk-duduk bersama Alqomah, ketika dia membaca ayat ini ‘barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya’ dan beliau ditanya tentang maknanya. Maka beliau menjawab, ‘Orang -yang dimaksud dalam ayat ini- adalah seseorang yang tertimpa musibah dan mengetahui bahwasanya musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa ridha dan pasrah kepada-Nya.” Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsir mereka. Sa’id bin Jubair dan Muqatil bin Hayyan ketika menafsirkan ayat itu, “Yaitu -Allah akan menunjuki hatinya- sehingga mampu mengucapkan istirja’ yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [4/391] cet. Dar al-Fikr)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa ayat di atas berlaku umum untuk semua musibah, baik yang menimpa jiwa/nyawa, harta, anak, orang-orang yang dicintai, dan lain sebagainya. Maka segala musibah yang menimpa hamba adalah dengan ketentuan qadha’ dan qadar Allah. Ilmu Allah telah mendahuluinya, kejadian itu telah dicatat oleh pena takdir-Nya. Kehendak-Nya pasti terlaksana dan hikmah/kebijaksanaan Allah memang menuntut terjadinya hal itu. Namun, yang menjadi persoalan sekarang adalah apakah hamba yang tertimpa musibah itu menunaikan kewajiban dirinya ketika berada dalam kondisi semacam ini ataukah dia tidak menunaikannya? Apabila dia menunaikannya maka dia akan mendapatkan pahala yang melimpah ruah di dunia dan di akherat. Apabila dia mengimani bahwasanya musibah itu datang dari sisi Allah sehingga dia merasa ridha atasnya dan menyerahkan segala urusannya -kepada Allah, pent- niscaya Allah akan tunjuki hatinya. Dengan sebab itulah ketika musibah datang hatinya akan tetap tenang dan tidak tergoncang seperti yang biasa terjadi pada orang-orang yang tidak mendapat karunia hidayah Allah di dalam hatinya. Dalam keadaan seperti itu Allah karuniakan kepada dirinya -seorang mukmin- keteguhan ketika terjadinya musibah dan mampu menunaikan kewajiban untuk sabar. Dengan sebab itulah dia akan memperoleh pahala di dunia, di sisi lain ada juga balasan yang Allah simpan untuk-Nya dan akan diberikan kepadanya kelak di akherat. Hal itu sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala (yang artinya), “Sesungguhnya hanya akan disempurnakan balasan bagi orang-orang yang sabar itu dengan tanpa batas hitungan.” (Taisir al-Karim ar-Rahman [1/867], software Maktabah asy-Syamilah)

Beliau melanjutkan, dari sinilah dapat dimengerti bahwa barang siapa yang tidak beriman terhadap takdir Allah ketika terjadinya musibah dan dia meyakini bahwa apa yang terjadi sekedar mengikuti fenomena alam dan sebab-sebab yang tampak niscaya orang semacam itu akan dibiarkan tanpa petunjuk dan dibuat bersandar kepada dirinya sendiri. Apabila seorang hamba disandarkan hanya kepada kekuatan dirinya sendiri maka tidak ada yang diperolehnya melainkan keluhan dan penyesalan yang hal itu merupakan hukuman yang disegerakan bagi seorang hamba sebelum hukuman di akherat akibat telah melalaikan kewajiban bersabar. Di sisi yang lain, ayat di atas juga menunjukkan bahwasanya setiap orang yang beriman terhadap segala perkara yang diperintahkan untuk diimani, seperti iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, takdir yang baik dan yang buruk, dan melaksanakan konsekuensi keimanan itu dengan menunaikan berbagai kewajiban, maka sesungguhnya hal ini merupakan sebab paling utama untuk mendapatkan petunjuk Allah dalam menyikapi keadaan yang dialaminya sehingga dia bisa berucap dan bertindak dengan benar. Dia akan mendapatkan petunjuk ilmu maupun amalan. Inilah balasan paling utama yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman. Maka orang-orang beriman itulah orang yang hatinya paling mendapatkan petunjuk di saat-saat berbagai musibah dan bencana menggoncangkan jiwa kebanyakan manusia. Keteguhan itu ditimbulkan dari kokohnya keimanan yang tertanam di dalam jiwa mereka (dengan sedikit peringkasan dari Taisir al-Karim ar-Rahman [1/867], software Maktabah asy-Syamilah)

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan bahwa di dalam ayat di atas terkandung beberapa pelajaran yang agung, yaitu:

1. Segala musibah yang menimpa itu terjadi dengan qadha’ dan qadar dari Allah ta’ala
2. Merasa ridha terhadap takdir tersebut dan bersabar dalam menghadapi musibah merupakan bagian dari nilai-nilai keimanan, sebab Allah menamakan sabar di sini dengan iman
3. Kesabaran itu akan membuahkan hidayah menuju kebaikan di dalam hati dan kekuatan iman dan keyakinan (I’anat al-Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid [3/140] software Maktabah asy-Syamilah)

Kedudukan Sabar dan Pengertiannya
Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu mengatakan,

الصَّبْرُ مِنَ الإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ ، فَإِذَا ذَهَبَ الصَّبْرُ ذَهَبَ الإِيمَانُ.

“Sabar bagi keimanan laksana kepala dalam tubuh. Apabila kesabaran telah lenyap maka lenyap pulalah keimanan.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya [31079] dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman [40], bagian awal atsar ini dilemahkan oleh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’ [3535], lihat Shahih wa Dha’if al-Jami’ as-Shaghir [17/121] software Maktabah asy-Syamilah)

Walaupun secara sanad atsar ini dinilai lemah, namun secara makna bisa diterima. Hal itu dikarenakan cakupan sabar yang demikian luas dalam agama Islam. Ia mencakup sikap seorang hamba dalam menghadapi berbagai perintah dan larangan serta berbagai keadaan yang dialami manusia di dalam kehidupan, di saat senang maupun susah. Untuk itu, marilah kita cermati pengertian sabar ini agar jelas bagi kita bahwa hidup tanpa kesabaran pada akhirnya akan menyeret manusia dalam jurang kekafiran.

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan,

الصبر لغة: الحبْس، قال الله تعالى لنبيه: {وَاصْبرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ} أي: احبسها مع هؤلاء. وأما في الشرع فالصبر هو: حبس النفس على طاعة الله سبحانه وتعالى وترك معصيته. وذكر العلماء: أن الصبر له ثلاثة أنواع: صبرٌ على طاعة الله، وصبرٌ عن محارم الله، وصبرٌ على أقدار الله المؤلِمة.

“Sabar secara bahasa artinya adalah menahan diri. Allah ta’ala berfirman kepada nabi-Nya (yang artinya), ‘Sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Rabb mereka’. Maksudnya adalah tahanlah dirimu untuk tetap bersama mereka. Adapun di dalam istilah syari’at, sabar adalah: menahan diri di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan untuk meninggalkan kedurhakaan/kemaksiatan kepada-Nya. Para ulama menyebutkan bahwa sabar itu ada tiga macam: sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menjauhi perkara-perkara yang diharamkan Allah, dan sabar saat menghadapi takdir Allah yang terasa menyakitkan.” (I’anat al-Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid [3/134] software Maktabah asy-Syamilah)

Ketika kesabaran lenyap
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اثْنَتَانِ فِى النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ الطَّعْنُ فِى النَّسَبِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ

“Ada dua buah perkara dalam diri manusia yang merupakan bentuk kekafiran. Mencaci maki garis keturunan dan meratapi mayit.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)

an-Nawawi rahimahullah menguatkan pendapat bahwa yang dimaksud hadits ini adalah kedua perbuatan ini tergolong perbuatan orang-orang kafir (Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim [2/57] software Maktabah asy-Syamilah). Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menerangkan bahwa hadits ini mencakup dua makna. Yang pertama yang dimaksud kufur di sini adalah kufur nikmat -tidak sampai mengeluarkan dari agama, pent- sedangkan yang kedua yang dimaksud adalah keduanya digolongkan sebagai perbuatan orang-orang kafir (Kaysf al-Musykil min Hadits Shahihain [1/1025] software Maktabah asy-Syamilah).

Di antara pelajaran berharga yang bisa dipetik dari hadits ini adalah:

1. Diharamkannya mencaci maka nasab/garis keturunan dan meratapi mayit
2. Isyarat yang menunjukkan bahwasanya kedua perbuatan ini akan tetap muncul di dalam umat ini
3. Bisa jadi di dalam diri seseorang terdapat sifat atau ciri kekafiran namun dia tidak bisa dicap sebagai orang kafir -semata-mata karena hal itu-
4. Islam melarang segala sesuatu yang mengarah kepada perpecahan (lihat al-Jadid fi Syarh Kitab at-Tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz al-Qor’awi, hal. 272)

Hikmah di balik derita
Tidaklah kita ragukan barang sedikitpun bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Bijaksana, tidak sedikit pun Allah menganiaya hamba-Nya. Allah ta’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ () الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ () أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Benar-benar Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, serta kekurangan harta, lenyapnya nyawa, dan sedikitnya buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya’. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Rabb mereka dan curahan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS. al-Baqarah: 155-157)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا ، وَإِذَا أَرَادَ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَلَيْهِ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَهُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan kebaikan maka Allah segerakan baginya hukuman di dunia. Dan apabila Allah menghendaki keburukan untuknya maka Allah akan menahan hukumannya sampai akan disempurnakan balasannya kelak di hari kiamat.” (HR. Muslim)

Di dalam hadits yang agung ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa ada kalanya Allah ta’ala memberikan musibah kepada hamba-Nya yang beriman dalam rangka membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran dosa yang pernah dilakukannya selama hidup. Hal itu supaya nantinya ketika dia berjumpa dengan Allah di akherat maka beban yang dibawanya semakin bertambah ringan. Demikian pula terkadang Allah memberikan musibah kepada sebagian orang akan tetapi bukan karena rasa cinta dan pemuliaan dari-Nya kepada mereka namun dalam rangka menunda hukuman mereka di alam dunia sehingga nanti pada akhirnya di akherat mereka akan menyesal dengan tumpukan dosa yang sedemikian besar dan begitu berat beban yang harus dipikulnya ketika menghadap-Nya. Di saat itulah dia akan merasakan bahwa dirinya memang benar-benar layak menerima siksaan Allah. Allah memberikan karunia kepada siapa saja dengan keutamaan-Nya dan Allah juga memberikan hukuman kepada siapa saja dengan penuh keadilan. Allah tidak perlu ditanya tentang apa yang dilakukan-Nya, namun mereka -para hamba- itulah yang harus dipertanyakan tentang perbuatan dan tingkah polah mereka (diolah dari keterangan Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz al-Qor’awi dalam al-Jadid fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hal. 275)

Di antara pelajaran berharga bagi kehidupan kita dari hadits yang agung ini adalah:

1. Allah memiliki kehendak yang sesuai dengan kemuliaan dan keagungan diri-Nya
2. Kebaikan dan keburukan semuanya ditakdirkan oleh Allah ta’ala
3. Cobaan/musibah yang menimpa orang-orang yang beriman merupakan salah satu tanda kebaikan baginya selama hal itu tidak menyebabkannya meninggalkan kewajiban atau terjatuh dalam perkara yang diharamkan
4. Semestinya seseorang merasa khawatir atas kenikmatan dan kesehatan yang selama ini senantiasa dia rasakan. Sebab boleh jadi itu adalah istidraj/bentuk penundaan hukuman baginya, sementara dia tahu betapa banyak maksiat yang telah dilakukannya, wal ‘iyadzu billah.
5. Wajibnya untuk berprasangka baik kepada Allah atas segala perkara dunia yang tidak mengenakkan yang menimpa diri kita
6. Hadits ini juga menunjukkan bahwa pemberian Allah kepada hamba-Nya tidak selalu mencerminkan bahwa Allah meridhai hal itu untuknya. Seperti contohnya orang yang setiap kali hendak minum khamr kemudian dia selalu mendapatkan kemudahan untuk mendapatkannya, atau bahkan memperolehnya secara gratis. Maka ini semua bukanlah bukti kalau Allah menyukai hal itu untuknya (diambil dari al-Jadid fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hal. 275 dengan sedikit tambahan keterangan dan contoh)

Inilah uraian ringkas yang bisa kami sajikan dalam tuisan yang sangat sederhana ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Abu Mushlih Ari Wahyudi

Apr
25

“Mama, kenapa besok kita harus mengenakan busana warna hitam? Emangnya ada peristiwa sedih apa?”, tanya putri kecilku dengan penuh rasa penasaran. “Sayang, besok (tanggal 19 Ramadhan) tepatnya pada waktu subuh merupakan hari dimana orang nakal yang bernama Abdurahman bin Muljam menancapkan pedang beracunnya di kepala pemimpin para manusia baik. Orang yang dekat sama anak-anak seperti kamu, penyayang anak-anak yatim, temanmu. Orang yang selalu memberi salam kepada anak-anak kecil dan sahabat orang fakir miskin.

Orang yang sangat baik, beliau adalah Imam Ali AS. Biasanya anak-anak yatim di kota Kufah, setiap malam sudah menungggu susu dan buah kurma yang akan dibagi-bagikan Imam Ali AS kepada mereka. Lalu Imam meletakkan susu dan kurma tersebut di depan pintu rumah anak-anak yatim tanpa ada yang mengetahuinya. Namun setelah peristiwa menyedihkan terjadi, tiada lagi orang yang meletakkan susu dan kurma di hadapan rumah mereka. Padahal anak-anak yatim sudah menunggunya, tapi orang baik yang tak mau dikenal itu tak kunjung datang.

Dengan terjadinya peristiwa menyedihkan itu, akhirnya mereka mengetahui bahwa orang yang selama ini selalu mengirim susu dan kurma kepada mereka adalah Imam Ali AS. Semenjak anak-anak yatim itu mengetahui bahwa Imam Ali AS mengalami luka parah terkena tusukan pedang beracun, akhirnya giliran mereka yang membawa susu untuk Imam Ali AS, dengan harapan agar sakitnya segera pulih. Imam Ali AS adalah orang yang sangat pengasih dan penyayang terhadap anak-anak seperti kamu, dan anak-anak yatim temanmu”, jawabku panjang lebar menjelaskan.

“Putriku sayang, orang-orang yang sayang sama Imam Ali AS dari besok (tanggal 19 Ramadhan) sampai tanggal 21 Ramadhan -yang merupakan hari kesyahidan Imam Ali AS yang pergi menemui Tuhan- akan bersedih dan berduka atas ketiadaan beliau”, jelasku. “Putriku sayang, kita bersedih karena orang baik dan orang yang selalu mengajak kita kepada kebaikan telah meninggalkan kita. Orang yang bagaikan cahaya keberadaannya untuk kehidupan kita dan dunia ini telah pergi meninggalkan kita, dibunuh orang jahat. Kita semua sedih khan? Dan kesedihan itulah yang akhirnya kita disuruh (baca: dianjurkan) pakai baju warna hitam”, tambahku melanjutkan.

Andaikan kita menengok kembali kehidupan Imam Ali AS yang dipenuhi dengan berbagai keutamaan. Betapa hebat jika kita bayangkan bagaimana Imam Ali AS datang ke dunia dan pergi dari dunia ini di tempat yang sangat suci yaitu di rumah Tuhan. Beliau lahir di dalam Ka’bah dan syahid di mihrab masjid Kufah. Berdasarkan kesepakatan para ahli sejarah, Imam Ali AS lahir di rumah Allah SWT (Ka’bah). Sewaktu ibu beliau Fathimah binti Asad melaksanakan tawaf dan berdoa di sisi Ka’bah, dan sewaktu beliau merasakan rasa sakit sebagai tanda waktu melahirkan hampir dekat, beliau langsung bersandar di dinding Baitullah-Ka’bah.

Ketika itu, tiba-tiba tembok Ka’bah retak dengan sendirinya seakan mempersilahkan beliau masuk ke dalamnya, dan beliau pun akhirnya masuk ke dalam Ka’bah lewat belahan tembok tersebut. Sampai sekarang bekas retak tersebut masih tampak. Bagi orang yang pernah pergi haji pasti dapat melihat bekas retak tersebut. Apakah ini bukan sebuah mukjizat?

Kita mengetahui ka’bah merupakan tempat suci, orang yang dalam keadaan tidah suci seperti dalam keadaan haid dan nifas tidak dapat masuk ke dalamnya, tapi kenapa Allah SWT memberikan izin kepada Fathimah binti Asad dapat memasuki tempat tersebut? Apakah beliaupun seperti Sayidah Maryam AS dan Sayidah Zahra AS yang ketika melahirkan tidak mengeluarkan darah nifas, hal ini dikarenakan kesempurnaan dan kedudukan mulia yang mereka miliki di sisi Allah SWT? Fathimah binti Asad tinggal di dalam Ka’bah selama tiga hari. Siapakah yang memberikan hidangan kepada Fathimah binti Asad sehingga dapat memulihkan kembali rasa letih yang dirasakan pasca melahirkan? Apakah beliau selama tiga hari tidak memakan apa-apa? Tidak seorang pun mengetahui apa yang terjadi di dalam Ka’bah sewaktu Fathimah binti Asad tinggal di dalam Ka’bah. Apakah ini bukan mukjizat yang tidak mungkin dimiliki oleh manusia biasa?

Ketika ayah Imam Ali as (Abu Thalib) mengalami kesulitan ekonomi maka beliau mengharap sebagian anggota keluarganya -yaitu Abbas (saudara Abu Thalib) dan Nabi Muhamad SAWW- untuk turut meringankan beban Abu Thalib. Mereka memutuskan untuk mengasuh dua anak Abu Thalib. Nabi Muhamad SAWW mengambil Ali as yang masih kecil untuk diasuhnya. Mungkin merupakan sebuah hikmah Illahi Rasulullah SAWW membesarkan Imam Ali AS di rumahnya yang merupakan tempat lalu lalang para malaikat, sehingga pribadi yang akan menjadi pengganti setelahnya itu tidak tumbuh dan berkembang disembarang rumah, akan tetapi dibesarkan dan dididik di rumah utusan Allah SWT dan tempat turunnya wahyu. Sehingga kepribadian dan kehidupan Nabi Muhamad SAWW berpengaruh dalam membentuk kepribadian dan dalam kehidupannya.

Dalam menggambarkan kondisi dirinya ketika bersama Rasulullah Imam Ali AS berkata: “…Kalian semua mengetahui kedudukan diriku di sisi Rasulullah, ….beliau menempatkanku di tempat tidurnya. Sewaktu aku masih kecil beliau menggendongku, serta menidurkan diriku di tempat tidur khususnya. Beliau menempelkan badannya di badanku dan aku mencium bau suci beliau. Kadang beliau meletakan makanan sesuap demi sesuap di mulutku. Beliau tidak pernah mendapatkan aku berbohong dalam ucapanku dan bersalah dalam prilakuku. Sejak Rasulullah menyelesaikan masa menyusu, Allah SWT mengutus Malaikat teragung (Jibril AS) untuk mendidiknya, siang malam beliau mengajarkan kepadanya jalan yang mulia, kejujuran dan akhlak yang terpuji. Aku selalu bersama Rasulullah SAWW seperti anak dengan ibunya. Setiap hari Rasulullah SAWW menunjukkan kepadaku akhlak-akhlak yang terpuji dan beliau memerintahkan kepadaku untuk mengikutinya. Pada setiap tahun Rasulullah untuk beberapa waktu beliau tinggal berkhalwat (mengasingkan diri) di gua Hira, hanya diriku yang menyaksikan beliau dan tidak ada seorang pun yang melihatnya selainku. Pada masa itu, tidak ada satu rumahpun yang agama Islam masuk ke dalamnya kecuali rumah Rasulullah, yang Khadijah AS termasuk di dalamnya dan aku pun sebagai orang ketiga di rumah tersebut yang memeluk agama Islam. Aku menyaksikan cahaya wahyu dan risalah beliau, aku mencium bau kenabian.

Ketika wahyu diturunkan kepada Rasulullah SAWW aku mendengar suara jeritan Setan. Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, jeritan siapakah ini? Beliau menjawab: “Setan, yang telah putus asa dengan penyembahan dirinya”. Lantas beliau melanjutkan: “Wahai Ali, sesungguhnya engkau mendengar semua yang aku dengar, dan melihat semua yang aku lihat, hanya saja engkau bukan seorang nabi melainkan engkau sebagai pengganti (wazir) dan engkau berada pada kebaikan”. [kitab Nahjul-Balaghah, Khutbah ke-192]

Ali bin Abi Thalib AS adalah pribadi mulia yang terlahir di rumah Tuhan (Ka’bah), dibesarkan di rumah Utusan Tuhan (Rasulullah SAWW) dan pergi dari alam dunia yang fana’ inipun dari rumah Tuhan, tempat bersujudnya para manusia beriman (masjid). Beberapa hari menjelang kesyahidannya Imam Ali AS melaksanakan buka puasa di rumah para putra dan putrinya secara bergiliran. Tepatnya pada malam tanggal 19 Ramadhan tahun 40 HQ beliau berbuka puasa di rumah putri tercintanya Sayidah Zainab AS. Pada buka puasa tersebut beliau hanya mencukupkan dirinya dengan menyantap roti kering dan garam. Padahal pada saat itu beliau merupakan seorang khalifah muslimin. Malam tersebut Imam Ali AS menghabiskan waktu malamnya dengan ibadah dan penghambaan diri ke hadirat Ilahi dan senantiasa dalan keadaan munajat dan merintih. Beliau telah mengetahui dan mencium ajal dan kesyahidan yang akan menjemputnya.

Sayidah Zainab AS mengatakan bahwasanya Imam Ali AS telah mengumpulkan anaknya pada malam itu seraya berkata kepada mereka: “Sesungguhnya aku telah melihat Rasulullah pada mimipiku saat ini, beliau berkata kepadaku: “Wahai Abu Hasan, dalam waktu dekat engkau akan menyusul kami, akan datang kepadamu orang yang paling celaka dimana ia akan mewarnai parasmu dengan darah yang keluar dari kepalamu. Sumpah demi Tuhan, aku sangat rindu untuk bertemu denganmu, dan engkau akan berada di samping kami pada waktu sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Maka cepatlah engkau bergabung dengan kami, karena perkara yang telah disediakan oleh Allah SWT untukmu ialah lebih baik bagimu dan akan kekal”. [kitab Biharul-Anwar, jilid 42 Bab 277 dinukil dari buku Zainab Kubro az Wiladah ta Syahadah halaman 49]

Pada malam itu Imam Ali AS senantiasa dalam keadaan munajat dan shalat. Ketika waktu mendekati subuh, beliau keluar dari kamar dan menatap bintang-bintang di langit, setelah itu ketika beliau memasuki kamar dan kembali ke tempat ibadah, beliau berulang-ulang mengucapkan: “Ya Allah, berkahilah kematianku”, dan mengucapkan zikir ‘innalillahi wa inna ilaihi raji’uun’ dan ‘la haula wala quwata illa billah ‘aliyuladzim’, banyak mengucapkan shalawat kepada Rasulullah dan beristighfar. Menyaksikan keadaan ayahnya yang berulang-ulang menyebutkan tentang kematian, Sayidah Zainab AS bertanya: “Wahai ayahku, kenapa malam ini engkau menyampaikan kabar kematianmu? Imam Ali AS menjawab: “Wahai putriku, ajal telah mendekatiku dan terputuslah harapan”. Sayidah Zainab AS menangis setelah mendengar ucapan beliau, lalu Imam Ali AS melanjutkan ucapannya: “Janganlah menangis wahai putriku, ketahuilah aku tidak menyampaikan berita ini melainkan Rasulullah telah menyampaikan kepadaku”.

Setelah itu, untuk sesaat Imam Ali AS beristirahat dan lalu menyibukkan kembali dirinya dengan doa, shalat dan membaca zikir. Bahkan beliau pun memohon kepada putrinya untuk mengingatkannya ketika waktu azan subuh telah tiba. Di saat waktu azan subuh telah tiba, kemudian Sayidah Zainab AS memberitahukan ayahnya, sehingga beliau bersiap-siap untuk berangkat ke Masjid Kufah untuk memimpin shalat berjamaah subuh. Sesampainya di masjid, lantas beliau mengumandangkan azan subuh dan seperti biasanya setelah azan beliau membangunkan orang-orang yang tidur di masjid untuk melaksanakan shalat seraya berkata: “Shalat, Allah akan merahmati kalian, bangunlah untuk melaksanakan shalat wajib”. Kemudian beliau membacakan ayat 45 dari surah al-Ankanbut: “Sesungguhnya shalat akan mencegah kalian dari perbuatan keji dan mungkar”. Imam Ali As pun pada saat itu telah membangunkan orang yang akan membunuhnya, yaitu Abdurrahman bin Muljam yang tidur di masjid dan telah merencanakan pembunuhan terhadap beliau.

Setelah membangunkan orang-orang yang tidur di masjid lantas beliau pergi ke mihrab untuk melaksanakan shalat sunah. Si pembunuh, Abdurrahman bin Muljam dengan cepat telah mengambil shaf paling depan dalam barisan shalat berjamaah yang akan diimami oleh Imam Ali AS. Ia mengambil posisi tepat di depannya Imam Ali AS berdiri. Shalat berjamaah subuh pun telah dimulai, Abdurrahman bin Muljam sewaktu pelaksanaan shalat telah memasuki raka’at kedua dan Imam Ali telah mengangkat kepala beliau dari sujud pertama, lalu ia menghujamkan pedang beracunnya tepat mengenai kepala suci Imam Ali AS. Sewaktu pedang beracun mengenai kepala suci Imam Ali AS, Imam Ali AS mengucapkan: “Dengan nama Allah, dan demi Allah, dan atas jalan Rasulullah, sumpah demi Tuhan Ka’bah aku telah beruntung (fuztu wa rabb al-ka’bah), ini adalah perkara yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya telah berkata benar”. [Zainab Kubro az Wiladah ta Syahadah halaman 49-55]

Sungguh sangat beruntung engkau wahai pemimpin orang-orang yang bertakwa, engkau terlahir di rumah Tuhan (Ka’bah), engkau dibesarkan di rumah utusan Tuhan, engkau syahid di rumah Tuhan (masjid) dan engkau syahid dengan bersumpah pada pemiliki Ka’bah: “Fuztu wa Rabb al-Ka’bah”, “Sumpah demi pemilik Ka’bah sesungguhnya aku telah beruntung”. Beginilah akhir kehidupan pemimpin para kaum mukmin dan ahli takwa ini. Ali bin Abi Thalib AS yang selama ini selalu dipropagandakan oleh Muawiyah bin Abi Shofyan di wilayah Syam sebagai manusia keji dan pelaku dosa, dengan cara meninggal yang indah (yaitu dalam keadaan sujud di hadapan kekasih sejatinya) dan di tempat yang indah (yaitu masjid tempat mengungkapkan kecintaan hamba kepada kekasih sejatinya, Allah) menyebabkan keheranan banyak penduduk Syam dan tersingkapnya kebohongan berita-berita buruk yang selama ini dibikin oleh Muawiyah bin Abi Sofyan terhadap pribadi suci Ali bin Abi Thalib AS. [ED / Islamfeminis]

Apr
25

Teman, ketahuilah bahwa manusia adalah keberadaan yang tidak dikenal. Apapun yang mereka ketahui tentang manusia, itu masih sedikit dan banyak yang belum mampu mereka ketahui dan pecahkan. Di antara adalah masalah penciptaan manusia.

Dalam berbagai buku dijelaskan, setelah cetakan tubuhmu siap, Allah meniupkan ruh-Nya pada cetakan tubuh Adam. Para malaikat iri pada hasil ciptaan Allah ini. Lalu mereka berkata, “Kecintaan kami kepada Allah jauh lebih besar dari kecintaan manusia kepada Allah.” Dan mereka menghina Adam seraya berkata, “Hai Adam! Kami-lah yang mencari dan mendatangkan tanah ciptaanmu, lalu menuangkannya ke cetakan tubuhmu. Lantas bagaimana mungkin, dalam kecintaan kepada Allah, engkau setara dengan kami? Yakni, tidak ada perbedaan antara engkau dan kami?!” Teman, manusia diciptakan semacam itu, kemudian Allah menawarkan amanat-Nya, yakni cinta-Nya, kepada berbagai langit, yakni planet dan para penghuninya.

Tetapi enggan menerimanya lantaran tak sanggup memikulnya, lalu hal itu ditawarkan kepada manusia, dan dia menerimanya. Karena inilah manusia membeli derita-cinta dengan jiwa dan memikul berbagai beban penderitaan. Kemudian, dia turun ke dunia dengan memikul beban cinta yang berat dan berkelana di padang kegilaan, yaitu dunia.

Kemudian, muncullah berbagai agama dan dongeng, dan terjadilah berbagai peperangan antara agama dan keyakinan. Teman, kini lihatlah apa yang dapat dilakukan manusia dalam melintasi jalan nan luas ini? Kecendrungan pada sebutir biji gandum telah membuat Adam keluar dari jalan itu, lalu bagaimana mungkin kita dengan berbagai macam kekurangan dan kelemahan, tidak keluar dari jalan itu? Yakni, Adam yang memilki maqam kenabian, telah teperdaya oleh sebutir gandum, lalu bagaimanakah kita, dengan berbagai kelalaian yang merupakan sifat manusia, berharap mampu tidak tergelincir dari jalan Sang Kekasih?! Teman, jangan takut dan gelisah menghadapi berbagai kesulitan hidup.

Jangan mengeluh dan menggerutu atas kekurangan yang ada. Bertahanlah dan hadapi berbagai derita dengan penuh kesabaran, dan berusahalah melenyapkannya. Semoga dengan pertolongan Ilahi, engkau meraih keberhasilan dan menggapai apa yang kau cita-citakan. InsyaAlloh.[]

Apr
13

Assalamu’alaikum. Bismillah, wash Shalatu was Salamu ala Rasulillah, Amma Ba’du :


Dalam sejarah peradaban manusia, tidak ada yang bisa menyamai generasi para shahabat. Mereka adalah orang-orang pilihan Allah untuk menjadi sahabat Nabi-Nya, Muhammad صلى الله عليه وسلم. Sungguh keistimewaan yang tidak akan tertandingi oleh apa pun. Mereka adalah generasi pilihan yang harus dijadikan panutan. Baik dari kalangan shahabat maupun shahabiyah. Membaca kisah mereka ibarat hidup di tengah-tengah mereka dan merasakan getaran kekuatan yang memasuki relung hati kita meski kita tidak pernah bertemu dengan mereka.

Di antara kisah mereka yang membuat kita terhipnotis adalah pertanyaan yang mempesona dari duta para wanita, para shahabiyah رضي الله عنهن yang diwakili oleh Asma’. Pertanyaan itu muncul karena kegelisahan dan keinginan mereka untuk mendapat pahala sebagaimana kaum pria, para shahabat. Lebih menghebohkan lagi, pertanyaan itu disampaikan ketika Nabi Muhammad bermajlis bersama para shahabatnya.

Bagaimana kisahnya? Mungkin kita sudah pernah mendengarnya, atau bahkan menghafalnya. Ini sebagai pengingat saja dan menguatkan memori kita untuk mengingat kembali kisah fantastic tersebut.

Pada suatu hari Rosululloh sedang mengajarkan al-Qur’an dan as-Sunah kepada para Shahabatnya. Di tengah keasyikan mengajar, beliau dan para shahabat dikejutkan dengan datangnya seorang shohabiyah. Dia bernama Asma’ binti Yazid bin Sakan رضي الله عنها yang menjadi duta dari para shahabiyah di belakangnya.

Di tengah keterjutan Rasululloh dan para shahabat, Asma’ bertanya kepada beliau , ” Wahai Rasulullah , sesungguhnya aku adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah yang di belakangku. Seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan, dan semuanyanya berpendapat sebagaimana yang aku utarakan.”

Kemudian ia melanjutkan, “Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada semua kaum laki-laki dan kaum wanita, kemudian kami beriman kepadamu dan kepada Rabb mu. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum laki-laki, dan kami adalah tempat mereka menyalurkan syahwatnya. Kami pula yang mengandung anak-anak mereka. Akan tetapi kaum laki-laki mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat Jum’at, mengantarkan jenazah, dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kami lah yang menjaga harta mereka dan mendidik anak-anak mereka.”

Setelah mengutarakan semua hal yang mengganjal dalam benak semua shahabiyah, ia kemudian bertanya, “Lantas, apakah kami, kaum wanita, juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka ?”
Coba kita baca sekali lagi, “Lantas, apakah kami, kaum wanita, juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka ?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah terkagum-kagum mendengar pertanyaan yang sangat luar biasa indahnya, sebagaimana kekaguman kita setiap kali membaca dan mengamati pertanyaan tersebut. Indah nian. Sungguh. Pertanyaan luar biasa yang terlontar karena ingin mendapatkan pahala berlimpah dari profesi ibu rumah tangga; wanita yang menjaga dirinya, harta suaminya dan mendidik anak-anaknya.

Dengan wajah tersenyum karena mendapatkan pertanyaan yang sedemikian indahnya, Rasululloh menoleh kepada para sahabat dengan menghadapkan seluruh tubuhnya dan bersabda, “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan tentang agama dari seorang wanita yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?”

Para sahabat yang belum hilang keterjutannya dengan pertanyaan Asma’, sekarang juga terkejut lagi dengan pertanyaan Rasululloh. Pada saat itu para shahabat hanya bisa menjawab, “Belum, belum wahai Rasululloh. Bahkan, belum pernah terdetik dalam benak kami bahwa dia akan bertanya sedemikian bagusnya, wahai Rosululloh !”

Rasululloh dan para shahabat sangat terkagum dan terpesona dengan pertanyaan yang demikian indahnya.

Kemudian Rasulullah bersabda, “Kembalilah wahai Asma’ dan beritahukan kepada para wanita yang berada di belakangmu; bahwa perlakuan baik salah seorang di antara mereka kepada suaminya, upayanya untuk mendapat keridhaan suaminya, dan ketundukkannya untuk senantiasa mentaati suami; itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum laki-laki.” Subhanallah. Jawaban yang sejuk dan indah. Mengobati semua kegundahan para wanita, yang iri dengan berbagai pahala yang diperoleh kaum pria.

Mendengar jawaban Rasululloh, Asma’ berlalu dengan wajah berseri-seri dan mengucapkan tahlil sebagai tanda kemenangan karena mendapatkan apa yang mereka impikan sebagai kaum wanita. Tak lama setelah itu, para shahabiyah yang mendengar kabar Asma’ selaku duta mereka pun mengumandangkan takbir setelah mendengar jawaban Rasululloh. Allahu Akbar !

**************************

*********************************Catatan untuk seorang sahabat.

Semoga bermanfaat.

Dimohon kepada teman-teman untuk meng-copy catatan ini, dan mentag teman-temannya. Utamanya, para akhwat. Agar para wanita bangga dengan statusnya sebagai ibu rumah tangga. Ingat, ada teman yang tersadarkan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga, antum mendapatkan pahalnya juga. “Orang yang menunjukkan kebaikan seperti orang yang melakukannya.” Nah, kan? So, silahkan copy-copy dan copy catatan yang satu ini.

Salam Ukhuwah dari Akhukum fillah, Ibnu Abdul Bari el-Afifi.

Apr
06


Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam semesta, Sholawat dan Salam semoga senantiasa tercurahkan kepada penghulunya orang-orang yang zuhud dan imamnya para ahli ibadah. Amma ba’du : Sesungguhnya dunia adalah negeri persinggahan bukan negeri untuk menetap, dunia adalah tempat yang penuh dengan duka cita bukan tempat tinggal untuk bersuka cita. Maka sepatutnya bagi seorang mukmin menjadikan dunia sebagai bagian perjalanan, mempersiapkan bekal dan hartanya untuk menuju ke perjalanan yang pasti. (ke akhirat, pent.) Maka merupakan kebahagiaan bagi siapa yang menjadikan perjalanan ini bekal yang akan menyampaikannya ke keridhaan Allah Ta’ala, yang menghantarkannya kepada ganjaran surga-Nya dan kepada keselamatan dari neraka-Nya. “Sesungguhnya dunia adalah jalan menuju Surga dan Neraka Malamnya adalah tempat perniagaan manusia dan hari-harinya adalah pasar.” DEFINISI ZUHUD TERHADAP DUNIA Banyak sekali perkataan-perkataan para Salaf di dalam mendefinisikan zuhud terhadap dunia, dan keseluruhannya berputar kepada ketiadaan hasrat kepada dunia dan kekosongan hati dari ketergantungan terhadap dunia. 1. Berkata Imam Ahmad : الزهد في الدني : قصر الأمل “Zuhud terhadap dunia adalah pendek angan-angan”. 2. Berkata Abdul Wahid bin Zaid : الزهد في الدني والدرهام “Zuhud adalah terhadap dunia dan dirham”. 3. Al-Junaid ditanya mengenai zuhud, beliau berkata : استسغار الدني, ومحو آثارها من القلب “Zuhud adalah menganggap dunia itu kecil dan menghilangkan bekasnya dari hati”. 4. Berkata Abu Sulaiman Ad-Darani : الزهد : ترك ما يشغل عن الله “Zuhud adalah meninggalkan apa-apa yang menyibukkanmu dari Allah” 5. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah : الزهد ترك ما لا ينفع في الآخرة, والورع ترك ما تخاف ضرره في الآخرة “Zuhud adalah meninggalkan apa-apa yang tak berfaidah bagi akhirat, wara’ adalah meninggalkan apa-apa yang membuatmu takut akan bahayanya terhadap akhirat. Ibnul Qayyim telah menganggapnya baik sekali pernyataan Syaikhul Islam ini”. 6. Berkata Ibnul Qayyim : والذي أجمع علبه العارفون : أن الزهد سفر القلب من وطن الدني, وأخذه في منازل الآخرة “Orang-orang bijaksana telah bersepakat bahwa zuhud adalah menyingkirnya hati dari negeri dunia, dan membawanya kepada negeri akhirat”.
إنما الدنيا إلى الجنة والنار طريق والليالي متجر الإنسان والأيام سوق

Maka dimanakah gerangan para musafir yang hatinya tertambat kepada Allah?
Dimanakah gerangan para pejalan yang hendak menuju ke tempat yang mulia dan derajat yang tinggi?
Dimanakah gerangan para perindu surga dan penuntut akhirat?

ZUHUD DI DALAM Al-QUR’AN Berkata Imam Ibnul Qayyim : Al-Qur’an dipenuhi dengan anjuran zuhud terhadap dunia, berita akan kehinaan dunia dengan segala kekurangannya, keberakhirannya dan kesegeraan kebinasaannya, dan berisi tentang anjuran berhasarat kepada akhirat, berita akan kemuliaannya dan kekekalannya. Di antara ayat-ayat yang mendorong bersikap zuhud di dunia adalah :

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ(20)
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadid 57 : 20)

زين للناس حب الشهوات من النساء والبنين والقناطير المقنطرة من الذهب والفضة والخيل المسومة والأنعام والحرث ذلك متاع الحياة الدنيا والله عنده حسن المآب)
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”. (Ali ‘Imran 3 : 14)

من كان يريد حرث الآخرة نزد له في حرثه ومن كان يريد حرث الدنيا نؤته منها وما له في الآخرة من نصيب
“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (Asy-Syuuraa 42 : 20)

قل متاع الدنيا قليل والآخرة خير لمن اتقى ولا تظلمون فتيلا
“Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun”. (An Nisaa’ 4 : 77)

بل تؤثرون الحياة الدنيا والآخرة خير وأبقى
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”. (Al A’laa 87 : 16-17)

HADITS-HADITS MENGENAI ZUHUD TERHADAP DUNIA Adapun hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang mendorong kepada zuhud terhadap dunia, menganggap kecil dunia dan menjauhkan diri dari dunia adalah banyak, di antara : 1. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada Ibnu ‘Umar Radhiallahu,

كن في الدني كأنك غريب أو عابر سبيل
“Jadilah engkau di dunia ini seolah-olah orang yang asing dan seorang pengembara.” (HR. Bukhari).

Turmudzi menambahkan dalam riwayatnya,

وعدّ نفسك من أهل القبور
“Dan persiapkanlah dirimu sebagai ahli kubur”.

2. Bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

الدني سجت المؤمن و جنة الكافر
“Dunia adalah penjaranya seorang mukmin dan surganya orang kafir.” (HR Muslim).

3. Bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam secara jelas tentang kerendahan dunia :

ما الدني في الآخرة إلا مثل ما يجعل أحدكم أصبعه في اليم, فلينظر بما يرجع “
Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan ibarat seseorang di antara kalian yang memasukkan jari-jemarinya ke dalam lautan samudera, maka lihatlah apa yang diperoleh darinya.” (HR Muslim).

4. Bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:

ما لي وللدني, إنما مثلي ومثل الدني كمثل راكب –أي نوم- في ظلّ شجرة, ثم راح وتركها
“Apakah urusanku dengan dunia ini, sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia ibarat seorang pengembara yang sedang tidur di bawah naungan pohon pada hari yang panas, kemudian beristirahat lalu meninggalkannya.” (HR Turmudzi dan Ahmad dan haditsnya Shohih)

5. Bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

لو كانت الدني تزن عند الله جناح بعوضة, ما سقى كافرا منها شربة ماء
“Seandainya dunia seberat sayap nyamuk di sisi Allah, maka Allah tidak akan memberikan kepada orang kafir air minum sedikitpun.” (HR Turmudzi dan beliau menshahihkannya).

6. Bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam :

ازهد في الدني يحبك الله, وازهد فيما في أيدي الناس يحبك الناس
“Zuhudlah engkau di dunia maka Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah engkau terhadap apa yang dimiliki manusia niscaya mereka mencintaimu.” (HR Ibnu Majah dan Albani menshohihkannya).

7. Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda :

اقتربت الساعة ولا يزداد الناس على الدني إلا حرصا, ولا يزدادون من الله إلا بعدا
“Kiamat telah dekat, dan tidaklah bertambah kecuali manusia semakin rakus terhadap dunia, dan tidak bertambah melainkan mereka semakin jauh dari Allah.” (HR Hakim dan Albani menghasankannya).

HAKIKAT ZUHUD TERHADAP DUNIA Zuhud terhadap dunia adalah sebagaimana yang diamalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat-sahabat beliau. Zuhud bukanlah mengharamkan hal-hal yang baik dan mengabaikan harta, tidak pula zuhud itu berpakaian dengan pakaian yang kumal penuh tambalan. Zuhud bukanlah duduk bersantai-santai di rumah dan menunggu sedekah, karena sesungguhnya amal, usaha dan mencari nafkah yang halal adalah ibadah yang akan mendekatkan seorang hamba kepada Allah, dengan syarat menjadikan dunia hanya pada kedua tangannya tidak menjadikannya di dalam hatinya. Jika dunia itu terletak di tangan hamba bukan di hatinya, sama menurut pandangannya baik ketika ia sejahtera maupun sengsara. Tidaklah ia bersuka cita dengan kesejahteraannya dan tidaklah pula ia berduka cita dengan kesengsaraannya. Berkata Ibnul Qayyim dalam mensifati hakikat zuhud : “Tidaklah yang dimaksud dengan zuhud adalah menolak dunia, seperti kekuasaan, adalah Sulaiman dan Dawud ‘alaihima salam adalah termasuk orang terzuhud pada masanya, namun mereka memiliki harta, kerajaan dan para istri. * Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah manusia yang paling zuhud secara mutlak dan beliau memiliki sembilan istri. * Ali bin ‘Abi Tholib, Abdurahman bin ‘Auf, Zubair bin Awwam dan ‘Utsman bin ‘Affan Radhiallahu ‘anhum, walaupun termasuk orang-orang yang zuhud namun mereka adalah orang-orang yang berharta. * Adalah termasuk kebaikan apa yang dikatakan tentang zuhud, perkataan yang baik atau selainnya, yaitu tidaklah termasuk zuhud terhadap dunia dengan mengharamkan yang halal dan mengabaikan harta. Namun, zuhud adalah menjadikan apa-apa yang di tangan Allah lebih kau yakini daripada apa-apa yang ada pada tanganmu. * Datang seorang lelaki kepada Al-Hasan dan berkata : Aku punya tetangga yang tidak mau makan ‘Faludzaj’ (semacam pudding atau agar-agar, pent.). Berkata Hasan : Mengapa tidak mau? Orang itu menjawab : tetanggaku berkata, aku tak mampu memenuhi terima kasihnya. Berkata Hasan: Sesungguhnya tetanggamu itu jahil, apakah ia membalas terima kasihnya air yang dingin?! URGENSI ZUHUD Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah : “Tidaklah sempurna hasrat kepada akhirat kecuali dengan zuhud terhadap dunia. Lebih memuliakan dunia daripada akhirat akan berimplikasi kerusakan pada keimanannya, atau pada akalnya, atau bahkan pada kedua-duanya.” Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengesampingkan dunia di belakang punggungnya, demikian pula sahabat-sahabatnya, mereka menjauhkan hatinya dari dunia, mereka memperingatkan darinya dan tidak condong kepadanya, memusuhinya laksana penjara baginya bukan sebagai surga. Mereka zuhud dengan sebenar-benarnya zuhud, walaupun mereka ingin meraih segala rupa yang dicintai dari dunia, dan mencapai segala hal yang disukainya. Akan tetapi mereka mengetahui bahwa dunia itu negeri duka cita bukan negeri suka cita, mereka mengetahui bahwa dunia itu laksana awan pada musim panas yang akan lenyap sedikit demi sekdikit, ibarat impian khayalan yang takkan menyempurnakan kunjungan hingga diizinkan baginya bepergian.MACAM-MACAM ZUHUD Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah

: Zuhud itu bermacam-macam, di antaranya :

1. Zuhud terhadap perkara yang haram, dan hukumnya adalah fardhu ‘ain.

2. Zuhud terhadap syubuhat. Hukumnya menurut tingkatan kesyubuhatannya. Jika syubuhatnya kuat, maka hukumnya wajib dan jika syubuhatnya lemah, maka hukumnya mustahab/sunnah.

3. Zuhud dalam hal keutamaan, yaitu zuhud terhadap apa-apa yang tak bermanfaat dari ucapan, pandangan, pertanyaan , pertemuan, ataupun lainnya.

4. Zuhud terhadap manusia.

5. Zuhud terhadap diri sendiri, dengan cara mempermudah dirinya dalam beribadah di jalan Allah.

6. Zuhud terhadap perkara keseluruhan, yaitu zuhud terhadap perkara-perkara selain untuk Allah dan setiap perkara yang menyibukkanmu dari diri-Nya. Dan zuhud yang paling utama adalah memelihara zuhud itu sendiri… hati yang bergantung pada syahwat maka tidak sah zuhud dan wara’nya.

PERKATAAN SALAF TENTANG ZUHUD

1. Berkata Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu : Artinya : “Sesungguhnya dunia telah beralih ke belakang dan akhirat telah beralih ke hadapan, pada tiap-tiap keduanya terdapat anak-anaknya. Maka jadilah anak-anak akhirat dan jangan jadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah untuk beramal bukan hisab, dan esok adalah hari penghisaban bukan untuk amal. Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa.” (QS Al Baqarah 2 : 197)

2. Isa bin Maryam ‘alahi salam berkata : “Berlalulah di dunia ini dan janganlah mendiaminya” “Siapakah gerangan yang membangun kampung di atas gelombang lautan? Yang menghantam dunia maka janganlah kau jadikan tempat tinggalmu.”

3. Berkata Abdullah bin ‘Aun : “Sesungguhnya orang-orang sebelum kita dahulu menjadikan dunianya tidak lebih utama daripada akhirat, dan kalian menjadikan bagi akhirat kalian tidak lebih utama dari dunia kalian.” Aku (penyusun) berkata : Hal tersebut terjadi di zaman Abdullah bin ‘Aun, adapun sekarang, sesungguhnya banyak manusia telah zuhud terhadap akhirat bahkan terhadap keutamaannya!!

SEBAB-SEBAB MEMPEROLEH ZUHUD TERHADAP DUNIA

1. Memandang dunia akan kesegeraan keberakhirannya, kefana’annya, kekurangannya, kehinaannya dan penuh sesaknya akan kesedihan, kesusahan dan kepayahan di dalamnya.

2. Memandang akhirat akan kesejahteraannya, kedatangannya yang pasti, kelanggengannya, kekekalannya dan kemuliaan di dalamnya yang penuh kebaikan-kebaikan.

3. Memperbanyak mengingat kematian dan negeri akhirat.

4. Mengantarkan jenazah sembari memikirkan penderitaan orang tua kita dan saudara-saudara kita. Mereka tidak membawa sesuatu apapun ke kuburan-kuburan mereka dari harta dunia, dan tidaklah pula bermanfaat kecuali amal-amal sholeh mereka.

5. Mencurakan segalanya demi akhirat, menetapinya dengan ketaatan kepada Allah dan mengisi waktu-waktunya dengan dzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an.

6. Lebih mendahulukan maslahat-maslahat agama di atas maslahat-maslahat dunia.

7. Berderma, berinfak dan memperbanyak sedekah.

8. Meninggalkan majlisnya ahli dunia dan menyibukkan diri dengan majelis-majelis akhirat.

9. Sederhana dalam makan, minum, tidur, tertawa dan bercanda.

10. Menelaah kisah-kisah para zahidin terutama sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan kepada sahabat-sahabatnya. Diterjemahkan dari Risalah : الدني مزرعة الآخرة, Darul Wathan edisi 172, penyusun : Qismul ‘Ilmi Bidaril wathan oleh Abu Salma al-Atsari


Sesungguhnya zuhud terhadap dunia tidaklah sebatas perkataan-perkataan yang disukai semata, namun zuhud merupakan perkara yang harus bagi setiap orang yang menghendaki Ridha Allah beserta ganjaran surganya, mencukupkan diri dengan keutamaannya yang mana zuhud merupakan ikhtiarnya Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabatnya.

إن الدني قد ارتحلت مدبرة, وإن الآخرة قد ارتحلت مقبلة و ولكل منهما بنون, فكونوأ من أبناء الآخرة, ولاتكونوا من أبناء الدنيا, فإن اليوم عمل ولا حساب, وغدا حساب ولا عمل. وتزودوا فإن خير الزاد التقوى اعبروها ولا تعمروها من ذا الذي يبني على موج البحر دارا؟ تلكم الدني فلا تتخذوها قرار إن من كان قبلنا كانوا يجعلون للدنيا ما فضل عن آخرتكم, وإنكم تجعلون لآخرتكم ما فضل عن دينكم. وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبح وسلم

Apr
06

Al-Masjid al-Ḥarām (Arabic: المسجد الحرام‎,  “The Sacred Mosque”) is the largest mosque in the world. Located in the city of Mecca, it surrounds the Kaaba, the place which Muslims worldwide turn towards while offering daily prayers and is Islam’s holiest place. The mosque is also known as the Grand Mosque.[1]

The current structure covers an area of 400,800 square metres (99.0 acres) including the outdoor and indoor praying spaces and can accommodate up to four million Muslim worshippers during the Hajj period, one of the largest annual gatherings of people in the world.

History

Islamic tradition holds that the Mosque was first built by the angels before the creation of mankind, when God ordained a place of worship on Earth to reflect the house in heaven called al-Baytu l-Ma’mur (Arabic: البيت المعمور, “The Worship Place of Angels”). From time to time, the Mosque was damaged by a storm (flood) and was rebuilt anew. According to Islamic belief it was built by Ibrahim (Abraham), with the help of his son Ismail (Ishmael). They were ordered by Allah to build the mosque, and the Kaaba. The Black Stone is situated near the eastern corner of the Kaaba. some believe it to be the only remnant of the original structure made by Abraham. The Kaaba is the direction for all the Muslims to pray across the globe thus signifying unity among all. The Islamic teaching specifically mentions that nothing is magical about the Grand Mosque except for the oasis Zamzam which has purportedly never dried ever since it was revealed.

And when We assigned to Abraham the place of the House (Kaaba), saying: Do not associate with Me aught, and purify My House for those who make the circuit and stand to pray and bow and prostrate themselves.
And when We made the House a resort for men and a place of security. And: Take ye the place of Abraham for a place of prayer. And We enjoined Abraham and Ishmael, saying: Purify my house for those who visit it and those who abide in it for devotion and those who bow down and those who prostrate themselves.
And when Abraham and Ishmael raised the foundations of the House (Kaaba): Our Lord! accept from us; surely Thou art the Hearing, the Knowing.

Muslim belief places the story of Ishmael and his mother’s search for water in the general vicinity of the mosque. In the story, Hagar runs between the hills of Safa and Marwah looking for water for her son, until God eventually reveals to her the Zamzam Well, from where water continues to flow non-stop to this day.

After the Hijra, upon Muhammed’s victorious return to Mecca, the people of Mecca themselves removed all the idols in and around the Kaaba and cleansed it. This began the Islamic rule over the Kaaba, and the building of a mosque around it.

The first major renovation to the Mosque took place in 692. Before this renovation, which included the mosque’s outer walls been risen and decoration to the ceiling, the Mosque was a small open area with the Kaaba at the centre. By the end of the 700s, the Mosque’s old wooden columns had been replaced with marble columns and the wings of the prayer hall had been extended on both sides along with the addition of a minaret. The spread of Islam in the Middle East and the influx of pilgrims required an almost complete rebuilding of the site which came to include more marble and three further minarets.

In 1399, the Mosque caught fire and what was not destroyed in the fire (very little) was damaged by unseasonable heavy rain. Again the mosque was rebuilt over six years using marble and wood sourced from nearby mountains in the Hejaz region of current day Saudi Arabia. When the mosque was renovated again in 1570 by Sultan Selim II‘s private architect it resulted in the replacement of the flat roof with domes decorated with calligraphy internally and the placement of new support columns. These features (still present at the Mosque) are the oldest surviving parts of the building and in fact older than the Kaaba itself (discounting the black stone itself) which is currently in its fourth incarnation made in 1629. The Saudi government acknowledges 1570 as the earliest date for architectural features of the present Mosque.

Following further damaging rain in the 1620s, the Mosque was renovated yet again: a new stone arcade was added, three more minarets were built and the marble flooring was retiled. This was the unaltered state of the Mosque for nearly three centuries.

Saudi Development

Pilgrims around Kaaba at Masjid Al Haram in Mecca, Saudi Arabia.

The most significant architectural and structural changes came, and continue to come, from the Saudi status of Guardian of the Holy Places and the honorific title of Custodian of the Two Holy Mosques (the other being the Mosque of the Prophet in Medina) been afforded to King Abdul Aziz. Many of the previously mentioned features, particularly the support columns, were destroyed in spite of their historical value. In their place came artificial stone and marble, the ceiling was refurnished and the floor was replaced. The Al-Safa and Al-Marwah, an important part of both Hajj and Umrah, came to be included in the Mosque itself during this time via roofing and enclosement. Also during this first Saudi renovation four minarets were added.

The second Saudi renovations, this time under King Fahd, added a new wing and an outdoor prayer area to the Mosque. The new wing which is also for prayers is accessed through the King Fahd Gate. This extension is considered to have been from 1982-1988.

The third Saudi extension (1988-2005) saw the building of further minarets, the erecting of a King’s residence overlooking the Mosque and further prayer area in and around the mosque itself. These developments have taken place simultaneously with those in Arafat, Mina and Muzdalifah. This third extension has also resulted in 18 more gates been built, three domes corresponding in position to each gate and the installation of nearly 500 marble columns. Other modern developments include the addition of heated floors, air conditioning, escalators and a drainage system.

The death of King Fahd means that the Mosque is now undergoing a fourth extension which began in 2007 and is projected to last until 2020. King Abdullah bin Abdul-Aziz plans to increase the capacity of the mosque by 35% from its current maximum capacity of 800,000 with 1,120,000 outside the Mosque itself.

Religious significance

The importance of the mosque is twofold. It not only serves as the common direction towards which Muslims pray, but is also the main location for pilgrimages.

Qibla

Main article: Qibla

The qibla—the direction that Muslims turn to in their prayers (salah)—is toward the Kaaba and symbolizes unity in worshiping one Allah(God). At one point the direction of the qibla was toward Bayt al-Maqdis (Jerusalem) (and is therefore called the First of the Two Qiblas),[citation needed] however, this only lasted for seventeen months, after which the qibla became oriented towards the Kaaba in Mecca. According to accounts from Muhammad‘s companions, the change happened very suddenly during the noon prayer at Medina in the Masjid al-Qiblatain.

Pilgrimage

Main articles: Hajj and Umrah

Pilgrims circumambulating the Kaaba.

Pilgrim at Mecca.

The Haram is the focal point of the hajj and umrah pilgrimages[2] that occur in the month of Dhu al-Hijjah in the Islamic calendar and at any time of the year, respectively. The Hajj pilgrimage is one of the Five Pillars of Islam, required of all able-bodied Muslims who can afford the trip. In recent times, about 3 million Muslims perform the hajj every year.

Some of the rituals performed by pilgrims are symbolic of historical incidents. For example, the episode of Hagar’s search for water is emulated by Muslims as they run between the two hills of Safa and Marwah whenever they visit Mecca.

The Hajj is associated with the life of Islamic prophet Muhammad from the 7th century, but the ritual of pilgrimage to Mecca is considered by Muslims to stretch back thousands of years to the time of Ibrahim (Abraham).

Unlike Hajj, the Umrah or (Arabic: عمرة‎) is a pilgrimage to Mecca, Saudi Arabia, performed by Muslims that can be undertaken at any time of the year.

Kaaba

The Kaaba at Masjid al-Haram

Main article: Kaaba

Literally, Kaaba in Arabic means square house. The word Kaaba may also be derivative of a word meaning a cube. Some of these other names include:

  • Al-Bait ul Ateeq which, according to one interpretation, means the earliest and ancient. According to another interpretation, it means independent and liberating.
  • Al-Bayt ul Haram which may be translated as the honorable or holy house.

The whole building is constructed out of the layers of gray blue stone from the hills surrounding Mecca. The four corners roughly face the four points of the compass. In the eastern corner is the Hajr-al-Aswad (the Black Stone), at the northern corner lies the Rukn-al-Iraqi (The Iraqi corner), at the west lies Rukn-al-Shami (The Syrian corner) and at the south Rukn-al-Yamani (The Yemeni corner). The four walls are covered with a curtain (Kiswah). The kiswa is usually of black brocade with the Shahada outlined in the weave of the fabric. About three quarters of the way up runs a gold embroidered band covered with Qur’anic text.

Imams

Imams at Haram Sharif are:

  • Sheikh Dr. Abdul Rahman Al-Sudais (Arabic:عبد الرحمن السديس).Leading imam; Chief of imams at Masjid Al Haram
  • Sheikh Dr. Saud Al-Shuraim (Arabic:سعود بن إبراهيم الشريم)- Judge in Mecca High Court; Deputy Chief Of Imams Mecca.
  • Sheikh Abdullah Awad Al Johany (Arabic:عبدالله عواد الجهني) (From 2005 during Ramadhan for taraweeh prayers. Appointed as full Imam of Kaabah in July 2007)
  • Sheikh Mahir Al-Muaiqely (Arabic:ماهر المعيقلي) Appointed in July 2007(Has led taraweeh in Al-Masjid(u) ‘n-Nabawiy in Ramadhan 2005 and 2006)
  • Sheikh Khaled Al Ghamdi (Arabic:خالد الغامدي) (Appointed after Hajj 2008)
  • Sheikh Dr. Salih bin Abdullah al Humaid (Arabic:صالح بن حميد)- Chairman Saudi Majlis al Shura
  • Sheikh Dr. Usaama bin Abdullah al Khayyat (Arabic:أسامة بن عبدالله خياط).
  • Sheikh Dr.Salih Al-Talib (Arabic:صالح الطالب) (Judge in Mecca High Court) appointed in 2003.
  • Sheikh Muhammed Al-Subayyil (Arabic:محمد السبيل)
  • Sheikh Faisal Al Ghazzawi (Arabic:فيصل غزاوي) (Appointed after Hajj 2008)

Former Imams include:

  • The Late Sheikh Abdullah Al-Khulaifi (Arabic:عبد الله الخليفي).
  • The Late Sheikh Ali Bin Abdullah Jabir (Arabic:على بن عبد الله جابر).
  • The Late Sheikh Umar Al-Subayyil (Arabic:عمر السبيل) (son of Muhummad Al-Subayyil).
  • The Late Sheikh Abdullah Al Humaid (Arabic:عبد الله الحميد)- Chief Justice of Saudi Arabia.
  • The Late Sheikh Abdullah Al-Harazi (Arabic:عبدالله الحرازي) Chairman Saudi Majlis al Shura.
  • The Late Great Sheikh Abdullah Khayyat (Arabic:عبدالله خياط).
  • Shaikh Dr. Salah Ibn Muhammad Al Budair (Lead Taraweeh in 2005-2006) now in Masjid Al-Nabawi
  • Sheikh Adil Kalbani (Led taraweeh 1429 A.H)

The imams have a set Rota to decide who leads which prayer in Mecca.

Fajr duty is given to Sheikh Salih bin Abdullah al Humaid. However, since his appointment as chairman/speaker of the Saudi Parliament, Majlis Shura, he spends most of his time in the capital, Riyadh. In his absence Sheikh Saud Al-Shuraim leads, with back-up duty given to Sheikh Juhany.

Zuhar is led by Sheikh Usama Khayat.

Asr is led by Sheikh Al-Talib.

Magrib duty is given to Sheikh Sudais, with Sheikh Faisal Gazzawi as back-up.

Isha is primarily led by Sheikh Al-Talib, with Sheikh Khalid Al Ghamdi leading in his absence.

Muezzins

Nowadays, several families are sharing adhan duty in the Masjid Al-Haram. Mulla, Shaker, Rayes, Abbas, Hadrawi, Basnawi, Khouj, Marouf and Feedah. Some of these families have been holding this position for hundreds of years. Today, The Mosque has 13 Muezzins :

  • Ali Ahmed Mulla (Arabic: على أحمد ملا) (Longest serving Muezzin).
  • Abdullah Asad Reyes (Arabic: عبدالله أسعد ريس).
  • Abdulaziz Asad Reyes (Arabic: عبدالعزيز أسعد ريس).
  • Mohammed Ali Shaker (Arabic: محمد علي شاكر).
  • Mohammed Yousif Shaker (Arabic: محمد يوسف شاكر).
  • Majid Ibrahim Abbas (Arabic: ماجد ابراهيم عباس).
  • Ibrahim Mohammed Hassan Abbas (Arabic: ابراهيم محمد حسن عباس).
  • Farouk Abdulrahman Hadrawi (Arabic: فاروق عبد الرحمن حضراوى).
  • Naif Feedah (Arabic: نايف فيدة).
  • Ahmed Abdullah Basnawi (Arabic: أحمد عبدالله بصنوي).
  • Ali Mohammed Moammar (Arabic: علي محمد معمر).
  • Toufik Khouj (Arabic: توفيق خوج).
  • Mohammed Siraj Marouf (Arabic:‫محمد سراج معروف ‬).
        • New Appointed Immams From July 2009 * * * *
  • Isam bin Ali Hasan Khan
  • Ahmed bin Ali Hasan Nuhas
  • Ahmed bin Yunus Ishaq Hauja

Isam Bin Ali Hasan Khanhafiz of Quraan. And he has ijazah in tajweed and qira’ah. Has a Phd in engineering and member of higher education University of Umul Quraa.

Ahmed bin Ali Hasan Nuhas- Hafiz of Quraan. MA in Islamic Education from Umul Qura University. A teacher in secondary education.

Ahmed bin Yunus Ishaq Hauja- hafiz of Quraan. Has BA in Qira’ah from department of Dawah and Usul addin. A teacher in secondary school. [3]

There are 16 muezzins at the mosque now, and during Ramadan an additional six are appointed. Apart from adhan, a muezzin also supports imams by repeating what they say in a loud voice. This is important, especially during Ramadan, when a large number of worshippers throng the mosque.

Apr
06

Djinguereber Mosque

The Djinguereber Mosque (Masjid) in Timbuktu is a famous learning center of Mali built in 1327, and cited as Djingareyber or Djingarey BerAbu Es Haq es Saheli who was paid 200 kg (40,000 mithqals) of gold by Mansa Kankan Musa, emperor of the Mali Empire. [According to Ibn Khaldun, one of the best known sources for 14th century Mali, says al-Sahili was given 12,000 mithkals of gold dust for his designing and building of the djinguereber in Timbuktu. in various languages. Its design is accredited to

Except for a small part of the northern facade which is limestone, the Djingareyber Mosque is made entirely of earth plus organic materials such as fibre, straw and wood. It has three inner courts, two minarets and twenty five rows of pillars aligned in an east-west direction and prayer space for 2,000 people.

Djinguereber is one of three madrassas composing the University of Sankore. It was inscribed on the list of UNESCO World Heritage Sites in 1988,[1] and in 1990 was considered to be in danger due to sand encroachment.[2] A four year project towards the restoration and rehabilitation of the Mosque began in June, 2006, and is being conducted and financed by the Aga Khan Trust for Culture.[3]

On the 26th February, 2010, during Mawlid (festival to mark the birth anniversary of Prophet Muhammad), a stampede at the mosque killed around 26 people and injured at least 55 others- mostly women and children.[4][5]

Djinguereber Mosque, Timbuktu

Outside the mosque

Apr
06

The Great Mosque of Djenné is the largest mud brick or adobe building in the world and is considered by many architects to be the greatest achievement of the Sudano-Sahelian architectural style, albeit with definite Islamic influences. The mosque is located in the city of Djenné, Mali on the flood plain of the Bani River. The first mosque on the site was built around the 13th century, but the current structure dates from 1907. As well as being the centre of the community of Djenné, it is one of the most famous landmarks in Africa. Along with the “Old Towns of Djenné” it was designated a World Heritage Site by UNESCO in 1988.

History

The first mosque

The actual date of construction of the first mosque in Djenné is unknown but dates as early as 1200 and as late as 1330 have been suggested.[1] The earliest document mentioning the mosque is al-Sadi’s Tarikh al-Sudan which gives the early history presumably from the oral tradition as it existed in the mid seventeenth century. The tarikh tells us that a Sultan Kunburu became a Muslim and had his palace pulled down and the site turned into a mosque. He built another palace for himself near the mosque on the east side.[2] His immediate successor built the towers of the mosque while the following Sultan built the surrounding wall.[3]

The ruins of the original mosque as seen in a turn of the century French postcard.

We have no other written information on the Great Mosque until the French explorer René Caillié visited Djenné in 1828 and wrote “In Jenné is a mosque built of earth, surmounted by two massive but not high towers; it is rudely constructed, though very large. It is abandoned to thousands of swallows, which build their nests in it. This occasions a very disagreeable smell, to avoid which, the custom of saying prayers in a small outer court has become common.”[4]

Design

View of the Great Mosque from the northeast as it looked in 1910. From Félix Dubois’ Notre beau Niger.

The walls of the Great Mosque are made of sun-baked mud bricks (called ferey), a mud based mortar, and are coated with a mud plaster which gives the building its smooth, sculpted look. The walls of the building are decorated with bundles of rodier palm (Borassus aethiopum) sticks, called toron, that project about 60 cm (2 ft) from the surface. The toron also serve as readymade scaffolding for the annual repairs. Ceramic half-pipes also extend from the roofline and direct rain water from the roof away from the walls.[16]

The mosque is built on a platform measuring about 75 m x 75 m (245 ft x 245 ft) that is raised by 3 metres (9 ft) above the level of the marketplace. The platform is accessed by 6 sets of stairs, each decorated with pinnacles. The main entrance is on the northern side of the building. The outer walls of the Great Mosque are not precisely orthogonal to one another so that the plan of the building has a noticeable trapezoidal outline.[17][18]

The prayer wall or qibla of the Great Mosque faces east towards Mecca and overlooks the city marketplace. The qibla is dominated by three large, box-like towers or minarets jutting out from the main wall. The cone shaped spires or pinnacles at the top of each minaret are topped with ostrich eggs.[19]toron and topped by pinnacles.[20] The eastern wall is about a meter (3 ft) in thickness and is strengthened on the exterior by eighteen pilaster like buttresses, each of which is topped by a pinnacle. The corners are formed by rectangular shaped buttresses decorated with

The prayer hall measuring about 26 by 50 meters (85 ft x 165 ft) occupies the eastern half of the mosque behind the qibla wall. The mud covered rodier palm roof is supported by nine interior walls running north-south which are pierced by pointed arches that reach up almost to the roof.[21] This design creates a forest of ninety massive rectangular pillars that span the interior prayer hall and severely reduce the field of view. The small irregularly positioned windows on the north and south walls allow little natural light to reach the interior of the hall. The floor is of sandy earth.[22]

Bundles of rodier palm sticks embedded in the walls of the Great Mosque are used for decoration and serve as scaffolding for annual repairs.

In the prayer hall, each of the three towers in the qibla wall has a niche or mihrab. The iman conducts the prayers from the mihrab in the larger central tower. A narrow opening in the ceiling of the central mihrab connects with a small room situated above roof level in the tower. In earlier times, a crier would repeat the words of the imam to people in the town. To the right of the mihrab in the central tower is a second niche, the pulpit or minbar, from which the iman preaches his Friday sermon.[23]

The towers in the qibla wall do not contains stairs linking the prayer hall with the roof. Instead there are two square towers housing stairs leading to the roof. One set of stairs is located at the south western corner of the prayer hall while the other set, situated near the main entrance on the northern side, is only accessible from the exterior of the mosque. Small vents in the roof are topped with removable inverted kiln-fired bowls, which when removed allow hot air to rise out of the building and so ventilate the interior.

The interior courtyard to the west of the prayer hall measuring 20 m x 46 m (65 ft x 150 ft) is surrounded on three sides by galleries. The walls of the galleries facing the courtyard are punctuated by arched openings. The western gallery is reserved for use by women.[24]

Since its construction in 1907, small changes have been made to the facade. Rather than a single central niche, the mirhab tower originally had a pair of large recesses echoing the form of the entrance arches in the north wall. The mosque also had many fewer toron with none on the corner buttresses.[25][26] It is evident from published photographs that two additional rows of toron were added to the walls in the early 1990’s.[27]

Cultural significance

The main entrance is in the north wall.

The entire community of Djenné takes an active role in the mosque’s maintenance via a unique annual festival. This includes music and food, but has the primary objective of repairing the damage inflicted on the mosque in the past year (mostly erosion caused by the annual rains and cracks caused by changes in temperature and humidity). In the days leading up to the festival, the plaster is prepared in pits. It requires several days to cure but needs to be periodically stirred, a task usually falling to young boys who play in the mixture, thus stirring up the contents. Men climb onto the mosque’s built-in scaffolding and ladders made of palm wood and smear the plaster over the face of the mosque.

Another group of men carries the plaster from the pits to the workmen on the mosque. A race is held at the beginning of the festival to see who will be the first to deliver the plaster to the mosque. Women and girls carry water to the pits before the festival and to the workmen on the mosque during it. Members of Djenné’s masons guild direct the work, while elderly members of the community, who have already participated in the festival many times, sit in a place of honor in the market square watching the proceedings.

The original mosque presided over one of the most important Islamic learning centers in Africa during the Middle Ages, with thousands of students coming to study the Qur’an in Djenné’s madrassas. The historic areas of Djenné, including the Great Mosque, were designated a World Heritage Site by UNESCO in 1988. While there are many mosques that are older than its current incarnation, the Great Mosque remains the most prominent symbol of both the city of Djenné and the nation of Mali.

On 20 January 2006 the sight of a team of men hacking at the roof of the mosque sparked a riot in the town.[28][29] The team were inspecting the roof as part of a restoration project financed by the Aga Khan Trust for Culture. The men quickly disappeared to avoid being lynched. In the mosque the mob ripped out the ventilation fans that had been presented by the US Embassy at the time of the Iraq war and then went on a rampage through the town. The crowd ransacked the Cultural Mission, the mayor’s home, destroyed the car belonging to the iman’s younger brother and damaged three cars belonging to the iman himself. The local police were overwhelmed and had to call in reinforcements from Mopti. One man died during the disturbances.[30]

On Thursday 5 November 2009, the upper section of the southern large tower of the qibla wall collapsed after 75 mm of rain had fallen in a 24 hour period.[31] The Aga Khan Trust for Culture funded the rebuilding of the tower.[32]

Apr
05

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Calon suamiku yg kukasihi tiada pernah aku bermimpi engkau akan menyatakan niatmu untuk menikahi tahun depan, saat itu hatiku tiba-tiba gelisah, aku panik bercampur bahaggia rasanya aku tak sabar menunggu saat-saat yang paling bersejarah dalam hidupku itu?bergitu bahagianya hatiku, ingin aku berbagi rasa dengan para sahabatku, lalu dengan bangganya aku menceritakan tentang dirimu yang sangat mencintai Alloh kepada sahabat-sahabatku?alangkah

terkejutnya aku mendengar perkataan mereka tentang dirimu, beberapa sahabat wanitaku bertanya padaku ?apa loe serius mau nikah sama cowo yg sok alim?…loe tau kan cowo yg sok alim itu pasti ngekang istrinya gak boleh keluar rumah, gak boleh kerja, malahan ada yg suruh istrinya pake cadar, ih gw seh ogah!!!?, dan salah satu sahabat lelakiku mengatakan ?serius loe mau nikah secepet itu, loe kan belum pernah liat orangnnya, mending PACARAN dulu 2 ato 3 thn buat saling kenal?kalo gw seh sebagai seorang modern, realistis dan open minded gak mau nikah cepet-cepet, dan nantinya gw bakal kasih kebebasan buat istri gw, kan wanita berhak bebas juga??kata-kata itu bagai petir menyambar hatiku, aku tak menyangka sahabat-sahabat yg selama ini sangat dekat denganku ternyata menganut faham kebebasan dan faham modernisasi?sesaat niatku untuk menikahimu karena mencari Ridha Alloh pun menghilang, syukurlah aku tersadar dan kupanjatkan do?a dengan sungguh-sungguh kepada sang Illahi agar Ia memberikan Petunjuk-Nya kepadaku?SubhanAlloh niatku yg telah memudar kembali jernih sejernih air zam-zam, tiada ada kebimbangan dan keragu-raguan dalam hatiku?Kini jika kelak aku menjadi istrimu dapat kuyakinkan padamu bahwa:Aku tiada akan pernah merasa kebebasanku terpasung jika kelak engkau memerintahkanku untuk berhenti bekerja?aku merasa bahwa perintahmu itu adalah karena engkau terlalu mencintaiku, sehingga engkau sama sekali tidak rela melihatku bekerja keras demi mencari kekayaan dunia? Aku tiada akan pernah merasa kebebasanku terpenggal jika kelak engkau memaksaku menutup auratku atau bahkan memaksaku mengenakan cadar sekalipun?aku merasa bahwa paksaanmu itu adalah karena engkau begitu mencemburuiku, sehingga engkau tidak akan pernah ikhlas jika lelaki lain memandangi tubuhku dengan tatapan nafsu?

Aku tiada akan pernah merasa kebebasanku terbelenggu jika kelak engkau tidak memperbolehkanku mempekerjakan pembantu dalam rumah tangga kita?aku merasa laranganmu itu adalah karena engkau sangat menyayangiku, sehingga engkau tidak ingin aku menyesal dikemudian hari karena aku tidak bisa melihat anak-anak kita tumbuh dalam asuhanku?

Aku tiada akan pernah merasa kebebasanku terhalang jika kelak engkau melarangku untuk bebas keluar rumah tanpa seizinmu?aku merasa aturanmu itu adalah karena engkau sangat merindukan dan mengkhawatirkanku, sehingga engkau akan merasa gelisah jika aku tidak berada dirumah?

Aku tiada akan pernah merasa kebebasanku terinjak-injak jika kelak engkau membatasi pergaulanku?aku merasa perlakuanmu itu adalah karena engkau terlalu mengasihiku, sehingga engkau tidak ingin melihatku terjerumus ke dalam pergaulan bebas yang akan mengantarku memasuki pintu neraka?

Yaa?aku akan sangat berterima kasih jika kelak engkau membatasi kebebasanku bukan karena ego-mu, tetapi karena engkau sangat memahami kewajiban dan tanggung jawab yang telah Alloh berikan kepadamu sebagai seorang suami?

Aku heran dengan para istri yg menyerukan kebebasan, sungguh sangat bodoh jika seorang istri merasa bahagia saat sang suami membebaskan cara berpakaian istrinya, tahukah sang istri bahwa perlakuannya itu pertanda sang suami tidak memiliki rasa cemburu kepadanya sekalipun banyak mata lelaki buaya yg menikmati kemolekan tubuh istrinya?Dan aku heran dengan para suami yg memperbolehkan istrinya untuk keluar rumah dengan bebas, lalu saat sang suami pulang kerja didapatinya rumah berantakan dan tidak ada makan malam untuknya karena sang istri terlalu sibuk bekerja atau bergosip dengan tetangganya?Duhai calon suamiku, saat aku telah menjadi istrimu gunakanlah hakmu sebagai seorang suami untuk membimbingku, agar aku tidak akan pernah terperosok ke dalam faham kebebasan yg penuh dengan tipu daya?

Namun saat melihat kenyataannya bahwa begitu banyak rumah tangga yg awalnya saling mencintai, harmonis, dan bahagia tapi tak lama berselang rumah tangga tersebut hancur tak bersisa dan tidak sedikit pula suami-istri yang saling menyakiti baik fisik maupun mental?Aku tak bermaksud untuk meragukanmu wahai calon suamiku, aku yakin suami yg bertakwa kepada Alloh pasti akan memperlakukan istrinya dengan baik.?Tapi sebelum aku memasuki kehidupan baru denganmu, izinkanlah aku mengajukan beberapa pormohonan padamu agar engkau dapat memahami isi hatiku sebagai seorang wanita dan seorang istri?

Duhai calon suamiku?aku bukanlah robot yg tidak akan pernah merasakan letih, kelak bantulah aku dalam mengatur rumah tangga kita, jangan kau limpahkan semua urusan rumah tangga hanya padaku tanpa mau memperdulikan dan mengerti keletihanku?


Duhai calon suamiku?aku bukanlah mahkluk bisu tempat engkau memuaskan nafsumu, kelah janganlah engkau mencumbuiku dengan cara yang kasar dan dingin, cumbuilah aku dengan lembut dan penuh kasih sayang?
Duhai calon suamiku?aku bukanlah patung tak berperasaan, kelak setialah padaku, sayangilah aku, dan hormatilah aku layaknya ratu dalam hatimu?Duhai calon suamiku?sungguh yang kuharapkan hanyalah kebahagiannya dalam rumah tangga kita, yang kuinginkan adalah ridha dari dirimu, yang kudambakan hanyalah genggaman tanganmu yang akan membawaku ke surga dunia dan akhirat?Untuk itu ajaklah aku untuk menyelammi kehidupan yang paling berbahagia, mari kita saling mengerti, memahami, dan mengasihi selayaknya dua insan yang raga dan jiwanya telah saling menyatu?oh sungguh bahagianya aku jika memiliki suami yang akan mengajariku dengan cinta dan membimbingku dengan kasih?SubhanAlloh?

Duhai calon suamiku?sebelumnya aku ingin berterima kasih padamu karena kelak engkaulah yang akan membawaku memasuki surga yang tiada akan pernah terbayangkan indahnya, engkaulah yang akan menuntunku mencapai Ridha Illahi, engkaulah yang akan menjagaku dalam mengarungi lautan hidup, engkaulah yang akan menjadi sandaran saat ragaku letih dan bersedih, engkaulah yang akan membantuku untuk menjadi seorang ibu yang paling berbahagia, engkaulah yang akan menemaniku disaat usiaku telah senja, dan engkaulah yang akan menjadi tempat untuk aku mencurahkan seluruh perasaan hatiku?Sungguh aku akan menjadi istri yg paling berbahagia jika memiliki suami yg menyayangi dan mencintaiku karena Allah dan semoga itu adalah dirimu?


Calon suamiku sekian surat cinta untukmu yang kutulis penuh dengan kasih dan harapan?Semoga Alloh selalu Meridhai dan Memberkahi rumah tangga kita nanti dengan kebahagiaan yg tiada akan pernah berakhir?Amiieen?Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh